Tidak Untuk Manusia

by - July 26, 2013

 Siklus keinginan manusia di bumi ini kadang maju kadang mundur. Tadinya pengen ini, sekarang pengen itu. Yang ini ada, milihnya yang itu. Setelah yang itu diambil orang, menyesal kenapa dulu tidak menginginkannya. Ada yang baru, yang lama dibuang. Manusia memang rumit dan sulit ditebak. Tapi begitu mudah dan menyenangkan mempermainkannya.


Beberapa minggu ya lalu, beli jepit (ikat rambut) baru. Sebenarnya tidak ada alasan buruk untuk membuang jepit yang lama, hanya saja jepit yang baru lebih menarik dan...baru-indah dalam pandangan mata. Apa yang terjadi pada jepit yang lama? Entahlah. Terakhir aku cek tergeletak di lantai, tersapu, hingga masuk ke kolong kasur yang kotor. Aku tidak peduli lagi dengannya. 
Jelaslah, selama pakai jepit yang baru, jepit yang lama tidak mengundang selera dan gak aku lirik sama sekali. Padahal, jepit itu sudah lama sekali mengikat erat di gulungan mahkotaku, sejak kapan ya, pokoknya lama-lebih lama dari hubunganku dengan mantan-mantan terdahulu, pastinya.

Tapi belum genap sebulan, bahkan jagung di ladang masih belum bersedia panen, jepit pita berwarna pink-yang selalu aku puja itu, putus. Pitanya lepas, karetnya putus, dan tidak layak pakai. Menyedihkan, memang.
Belum lagi peran jepit sangatlah penting untuk wanita yang tidak berambut pendek. Tidak jarang rambut harus digelung, misalnya waktu ke kamar mandi, wudlu, bahkan beraktifitas lainnya. Benar-benar butuh jepit. Jadi waktu itu aku nyari-nyari jepit lama yang dulu terabaikan, tidak disimpan, dan menghilang. Sebelum nemuin jepit yang lama, pakek jepit sementara; karet pecel dan bahkan pensil, sampai akhirnya ketemu. Bahkan sampai sekarang masih pakai jepit yang lama.

Jadi maksud dari semua itu, ketika manusia memilih yang baru, mereka pasti benar-benar mencampakkan yang lama, walaupun dengan cara bijaksana sekalipun. Tapi ketika yang baru mendadak hilang, maka manusia itu akan merindukan yang lama. Mengingat-ingat bagaimana kenangannya bersamanya, kebaikannya, bahkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan padanya. Sayang sekali, hanya benda mati yang bisa memaafkan manusia-hingga mau kembali lagi padanya. Seperti jepit yang aku pakai, dia sempat tercampakkan untuk beberapa waktu, tapi dia tidak menolak untuk mau kembali, bahkan 'perannya' masih sama seperti yang dulu, tidak berubah, walaupun pernah menginap di bawah kolong kasur.
Dan manusia? Bagaimana mereka? Apakah sama? Sayang dan amat disayangkan, tidak untuk manusia. Everything has changed. Bahkan sekian detik yang lalu dia bilang "Tidak ada yang bisa menggantikanmu disisiku.", tapi sekarang kenyataan berkata lain, "Maaf, kamu bukan yang terbaik.".

You May Also Like

0 comments