Sesulit apapun itu, kita akan baik-baik saja

by - October 04, 2018


Lama tak bersua, gimana kabarmu hari ini? Semoga menyenangkan seperti biasanya ya. Jangan lupa luangkan waktumu untuk berdoa atas duka yang menimpa teman kita yang ada di Donggala dan Palu. Bencana yang menimpa, mengingatkan kita untuk terus waspada dan menghargai waktu dengan baik. Aku ingin bercerita tentang apapun yang terjadi pada kita, kita pasti bisa melaluinya dengan baik-baik saja. Bersedia menyimak?

Dua minggu kemarin aku belajar banyak. Di postingan ini, aku akan cerita sedikit tentang apapun yang terjadi pada kita adalah karena suatu alasan. Pernah kah kamu merasa, rasanya mau menyerah dan hilang kendali. Itu yang aku rasakan dua minggu terakhir.

Pekerjaan yang tak berujung hasil memuaskan, rencana yang tak berjalan sesuai ekspektasi, bukan apresiasi justru kicauan yang bikin hari-hari pucat pasi. Tanpa kusadari, lama-lama kok jadi racun pribadi. Selalu menghembuskan nafas bad vibe, bawaannya julid, dikit-dikit ngeluh. Rasanya...ah, aku ingin berhenti saja.

Tunggu dulu,
you're going to let me down, but you can't. Itu mantra yang kuucapkan di depan cermin, ketika aku merasa rendah, tak semangat, dan butuh 'diriku' yang mampu mengidupkanku lagi.

Jika aku menyerah, aku membiarkan mereka menang. Mundur bukanlah caraku. Aku yakin, apa yang terjadi karena suatu alasan. Everything happen for a reason.

Darah muda, darahnya para remaja yang mudah emosional. Tak sabar dan maunya instan. Dari apa yang kupelajari kemarin, saat aku merasa demotivated, aku berusaha bangkit. Bahwa, ada satu hal yang kamu perlu tahu. Kamu tidak bisa mengandalkan siapa pun kecuali dirimu sendiri.

Menangis, mengeluh, bahkan menyalahkan orang lain bukanlah solusi yang dapat menyelesaikan masalahmu. Jika sesuatu buruk menimpamu, duduk dan istirahat lah, tarik nafas pelan-pelan dan jangan ikrarkan apapun tanpa logika. Jaga baik-baik media sosialmu, jangan buat orang lain berasumsi apa-apa tentangmu.

Sesulit apapun itu, ceritakan pada mereka bahwa kamu baik-baik saja. Tak bermaksud naif, tapi itulah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa kamu bukan manusia yang lemah. Bicara tentang mengeluh, apalagi soal pekerjaan, rasanya udah jadi kebiasaan hampir semua umat manusia. 

Apakah itu masalah? Gak juga sih. Aku juga sering mengeluh, mulai dari kerjaan yang tak berujung apresiasi sampai kenapa jalanan macet dan berdebu. Hanya saja, mengeluh itu bukanlah kebiasaan yang harus kamu ucapkan setiap hari. 

Aku tahu, rasanya berat. Rasanya ingin membanting kursi atau melempar ponsel tanpa khawatir harus beli yang baru. Tapi coba pikir, ditengah-tengah keluhanmu, pekerjaanmu selesai.

Kamu bisa melaluinya, dengan keadaan baik-baik saja.

Aku sempat mengeluh ini itu, tapi tetap aku kerjakan hingga selesai. Dan aku tak menyangka, aku bisa mengerjakannya sampai rampung walaupun agak drama hanya karena aku tak yakin bisa menyelesaikannya sendiri.

Dari situ aku sadar, bahwa kita mengeluh itu memang lagi cari perhatian atau benar-benar butuh bantuan. Sejak aku menyadari hal itu, aku mengurangi keluhanku, lebih tepatnya menceritakannya pada orang lain. Karena aku yakin, sesulit apapun itu hingga buat kita mengeluh seolah dunia mau runtuh, kita tetap bisa menyelesaikannya.

Apalagi kita masih muda. Punya waktu lebih banyak untuk membenahi diri. Ini sedikit ceritaku tentang jatuh 7 tapi bangun 10. Setiap apa yang terjadi, ambil hikmahnya. Menghilang atau mundur, bukanlah cara menyelesaikan masalah.

Aku yakin kamu bisa menjalani harimu dengan baik-baik saja. Seperti biasa, jadilah dirimu sendiri. Tak ada yang lebih menyenangkan selain menjadi dirimu sendiri, benar begitu?


You May Also Like

0 comments