Mama: Rumah atau Mobil dulu?

by - May 10, 2014

Sumber: media.lifehealthpro.com


Mama jarang nainyain topik yang serius, yang berhubungan dengan masa depan anaknya. Tapi waktu pulang kemarin, ketika makan bareng di ruang makan, mama membuka topik. "Lidya, setelah lulus nanti kamu mau ngapain?"


Setelah mencerna makanan di mulut, baru aku jawab. "Pengen kerja lah, Ma. Mau balikin modal ke mama sama bantuin biaya sekolah adik-adik." Jawabku enteng, seolah belum membayangkan dan menanggung beban yang tertimbun di kalimatku barusan.
"Seandainya aja ya, Lidya. Ini sih andaikan, kalo kamu ada cowok yang ngelamar kamu pas kamu lulus kuliah, dia udah mapan dan sebagainya, kamu mau nerima dia atau gimana?" Semakin lama, pertanyaannya memojokkan.
"Aku kerja dulu, Ma. Percuma dong kuliah S1 tapi berujung di KUA tanpa ngasih hasil dari keringat sendiri." Dan aku juga, gak tau kenapa, bahasaku seolah aku orang dewasa. Hanya "seolah".
"Meskipun dia kaya dan ganteng dan gak bisa nunggu kamu kecuali kamu nerima dia waktu kamu lulus?" Mama masih memojokkan.
"Nggak, Ma. Aku mau kerja duluuu..." Aku juga konsisten sama jawabanku, meski udah mulai goyah.
"Yakin?"
"Yakin, Ma."
Kalau, mama masih mojokin dua atau tiga kali pertanyaan lagi, kemungkinan aku jawab. "Yaa...kalau dia mampu menghidupi aku, mau nanggung adik-adikku, dan juga ngasih reward ke mama aku sih mau-mau aja." Tapi pernyataan itu aku simpan, aku telan baik-baik seperti makanan yang ada di mulut.

"Kalau kamu udah kerja, dapet uang banyak. Kamu pilih mobil dulu atau rumah?" Mama masih belum puas menginterogasi masa depan anaknya.
"Mobil dulu. Kenapa? Karena wanita yang udah punya mobil sendiri, pasti udah dipandang 'berbeda', bisa jadi stratanya lebih tinggi---bisa juga 'kan dapet jodoh yang seimbang (cengir). Terus, mobil 'kan yang paling kelihatan daripada rumah. Kalau mama sendiri, gimana?"
"Kalau mama sih, rumah dulu. Karena lid, kalau kamu udah dicerain sama suamimu, kamu masih punya pegangan. Setidaknya, kamu gak diremehin sama suamimu."
Dari perspektifku, mama bilang gitu berdasarkan pengalaman masa lalunya. Aku bisa lihat sendiri mama gak pengen nasibnya yang buruk terjadi sama anaknya. Tapi,
"Iya sih, Ma. Mama 'kan tanya mana dulu, ya kalo udah beli mobil aku beli rumah. Kalo aku nikah, rumahnya bisa 'kan aku kasih ke mama. Sesuai aktualisasi diriku ma, kebutuhanku 'kan bertahap gak bisa langsung instant kayak mie goreng."


Mama gak jawab lagi dan gak ngasih pertanyaan lagi. Ya, umn,  setidaknya, dari semua jawaban yang aku kasih ke mama. Bisa konsisten dengan komitmen maupun tujuan hidupku sampai nanti. Selain berharap, aku juga berusaha itu terjadi. Masih berusaha.

You May Also Like

1 comments

  1. kalau saya sih rumah dulu ya. rata2 rumah tangga bercerai berai karena ada campur tangan pihak ketiga dalam hal ini mertua mungkin ya. biar kecil rumah sendiri semoga keluarga jadi sakinah mawaddah warohmah

    ReplyDelete