22 y.o & dilema about life choosing career path

by - October 10, 2017

Photo by Jad Limcaco on Unsplash
Kalau misal aku punya lampu ajaib Aladin, salah satu permintaanku adalah: bisa pause waktu yang jalan gak? Pengen banget pause bentar, tarik nafas dulu. Karena mau nafas aja sekarang udah agak sesak, bukan karena asma atau apa. Hidup makin berat gak sih?

Kalau waktu itu adalah seorang manusia, pengen ketemu deh. Salim dulu kalo enggak gitu sungkem sekalian. Mau minta tolong, kalau jadi waktu itu pelan-pelan aja jalannya, gak usah lari. Karena tau-tau sekarang kok udah umur kepala dua ya? :(
Karena memori dibelikan es krim sama mama waktu TK dulu aja masih inget. Beli es tung tung, baru sekali jilat langsung jatuh ke tanah. Oh tidak, pas lagi nulis itu jadi inget lagi dan banjir memori masa lalu yang gak akan terlupakan.

Balik lagi ke judul postingan ini, tentang usia 22 tahun dan dilema tentang penentuan tujuan karir untuk hidup. Hidup itu kan cuma sekali, sayang banget kalau disia-siakan. Apalagi gak bisa dipungkiri waktu itu terus jalan dan gak akan berhenti walaupun jam dinding dicopot batrenya, you know. Kinda reflection, aku barusan nemu tulisanku sendiri saat usia 16 tahun. Kalau kamu pengangguran, coba deh baca ehe. Sumpah ngakak umur segitu masih cethek banget omongannya tentang nilai sekolah dan suka sama cowok sekelas, here's little things about me at 16 y.o.

Ngomongin career path, sebelum jauh kesitu yuk kita lihat dulu ada dimana posisi kita sekarang. As an example, aku mulai dulu cerita masuk kuliah. Saat awal masuk kuliah dulu, mimpi yang aku bawa dari kampung adalah jadi penulis. Entah itu novelis atau apapun itu yang penting nulis. Aku pikir menulis itu adalah passion aku. But it was a big no. Passion itu bukan sesuatu yang kamu tentukan dari awal, but it will follow you. Pekerjaan apapun itu, selama kamu hell yeah dengan itu, artinya kamu passion disitu. Jadi, passion itu bukan kapasitas atau skill, jangan miskonsepsi tentang itu.

Oke kembali lagi ke cerita tadi. As time goes by, ternyata ada bidang lain yang aku suka selain menulis. Gabung di organisasi kepemimpinan sana-sini, bikin event A-Z, dan sampai bisa kerja di perusahaan. Tujuanku adalah akselerasi, gimana caranya setelah lulus kuliah nanti sebagai fresh graduate aku masih punya sesuatu yang bisa dijual sebagai aset perusahaan. Karena apa? Beberapa udah apply di posisi dengan requirement "fresh graduate are welcome" itu udah kayak mitos. Mereka tetap mau nyari orang yang minimal pengalaman 2-3 tahun. Gak paham sama paradoks begituan deh. Ini fakta lho, balada seorang fresh graduate :(

Cerita lain adalah perjuangan menyelesaikan skripsi. Skripsi itu gampang kok, cuma butuh fighting spirit yang besar dari orang yang mau menyelesaikannya. Sisi lain dari balada skripsi adalah tekanan dari orang tua. It just me or what, orang tua itu nuntut untuk cepat wisuda. Kalau gak wisuda itu gak lulus.
Padahal menurutku jangan buru-buru wisuda. Wisuda itu cuma selebrasi toh? Selama sudah yudisium dan surat kelulusan turun, kamu bisa coba cari pekerjaan lain sampai bisa wisuda dengan jaminan kamu sudah diterima di salah satu perusahaan. Hanya saja, orang tua kadang gak tau apa yang dirasakan sang anak di jaman milenial ini.

Kalian tau, ketakutan terbesarku itu udah wisuda tapi belum keterima di perusahaan. Yang namanya 'tekanan hidup' itu gak pernah berhenti kok gaes. It will always follow you. Mulai dari "kapan lulus?" jadi "Kapan wisuda?". Lanjut lagi "kerja dimana?" sampai "Kapan nikah?". 

Makanya kayak di awal tadi, pengen request ke waktu untuk pause bentaaaar aja. Because we're here too much pressure and need to take a long breath. Ya gak sih? Atau cuma aku aja yang ngerasa tekanan itu ehe.

Balik lagi ke career path, posisi sekarang masih ngejalani projek nasional yang dieksekusi sendirian di Malang. Pekerjaan ini menuntut kerja remote di weekday dan kerja lapangan di weekend, tanpa kantor dan waktu yang fleksibel asal done assignment. Kerja remote emang cocok banget untuk anak milenial yang mau cari waktu fleksibel. Tapi tau gak sih, seiring menikmati ritme kerja yang seperti ini, justru ada yang gak beres.

Gampangnya aja, waktu itu kamu sendiri yang atur. Tanpa kantor? Well itu quietly challenging. Selama ini kerja di depan laptop di dalam kamar kos. Yang mana, kamar itu gunanya untuk istirahat dan gak ada hawa produktif disitu. Solusinya cari cafe biar dapet suasana baru. Belum lagi, I'm ENFJ person berdasarkan tes 16personalities. Ekstrovert person, dapat energi kerja dari orang lain. Kerja sendiri sebagai single fighter itu effortnya 2x bahkan 3x lipat. Jadi yaa, still fighting alone in this awesome project ^^

Punya feeling akan meninggalkan Malang segera. Malang udah macet parah dimana-mana yawlah :( Belum lagi air juga sepertinya semakin kotor bikin wajah jerawatan. Entahlah, makin penat aja sama kota pendidikan yang tak lagi sejuk ini. 

Sudah berusaha kok apply sana sini to leave this city soon. Tapi ternyata belum dapet panggilan. Kadang berpikir, apa mungkin masih disini karena ada kesempatan emas? The thing that I would do, no matter where I belong, entah itu di Malang atau mana pun. As long as I can find my passion on it, why no?

Hasil penelitian tentang rata-rata manusia itu baru memulai karirnya di usia 22 tahun itu menurutku benar adanya. Baru usia begini ditampar sama yang namanya life. Dan usia segini kalau gak cepet-cepet lari, sumpah deh, bakal ketinggalan kereta api alias perjalanan karir yang lambat. 

Percaya deh, sob, bro, siapapun kalian, selesaikan apa yang sudah kalian mulai. Yang lagi berjuang sama skripsinya, plis banget plis jangan putus di tengah jalan. Perjalanan itu masih panjang, jadi selesaikan secepatnya. Karena waiting list udah banyak nih. Kalau bisa sih, di usia menginjak kepala dua, you know what to do and how to achieve it.

You May Also Like

1 comments