Pelajaran Tentang Cinta di Masa Putih Abu-Abu

by - May 07, 2011


Hi, there! How was your day? Disini aku mau bagi tentang cerita cinta. Maybe it could be lil bit fluffly. Maklumin, kalo di umur segini pas ngomongin cinta itu...ibarat makan semangka di musim kemarau. Seger dan enaak banget. Am I right?

Cerita cinta di masa SMA itu warnanya pelangi. Kisahnya bervariasi, sederhana, tapi cukup dikenang untuk diceritakan kepada cucu cicit nanti. Mulai dari suka dan disukai, ditikung dan menikung, sampai kisah cinta putus nyambung. Atau, rasa patah hati dan kecewa ketika kamu menyukai orang itu sejak lama tapi dia gak pernah tau apa yang kamu rasakan. Mungkin, udah hukum alamnya, kamu akan menyadari betapa pentingnya dia dalam hidup kamu ketika dia sudah pergi. Penyesalah itu selalu di akhir, yang di awal itu namanya pedekate.  Lebih kesel lagi kalo tau, dia yang dulu biasa-biasa aja sekarang charming-nya MasyaAllah bikin tersepona. 

Ada lagi, cerita cinta anak cupu berkepang dua mengharapkan cowok keren klub basket, selalu jadi cerita unik untuk dilalui. Mengharapkan siswa paling populer, ketakutan jadi bahan bully geng paling disegani, sampai konflik rebutan pacar. Ini nih, masa yang akan saya lalui dua tahun ke depan. Entah bakal kebagian plot cerita yang mana, yang pasti, saya akan menerima apapun cerita cintanya--as long as it makes me happy and I learned a lot from it.

Kalo ngomongin cinta, apalagi yang ngomong masih umur 16 tahun gini, pasti diketawain. Ya gimana lagi, bagi remaja seusiaku, cinta itu was like kind of entertainment. Sesuatu yang bisa bikin tertawa, sesuatu yang bisa membuat kita mengandai-ngandai, berharap, bahkan membangkitkan emosial, entah itu sedih, marah, atau kecewa. For me and for now, cinta itu keinginan bukan kebutuhan. Aku butuh cinta sebagai hiburan atau inspirasi butiran kata yang aku tulis di blog. Belum ada, belum ada makna cinta sebagai kebutuhan hidup. Semisal, aku mencintainya karena dia nanti akan membahagiakan aku. Pfft. Jatohnya kocak banget. 



That's why agak geli kalo pas SMA manggilnya papi mami. Tapi, tapi lagi, papi mami atau ayah bunda was like little thing the cutest moment that teen ever created and passed. Lucu aja sih kalo mau panggil papa mama atau semacamnya. Mungkin, mungkin aja, untuk orang dewasa yang udah 20 keatas akan menertawakan kami. But here we are gitu lho. Gak ada yang gak mungkin terjadi di masa putih abu-abu. Am I wrong?

You May Also Like

0 comments