How Can I Deal With My 21st

by - August 18, 2016

Hai gengs, apa kabar? Jangan lupa makan ya, tapi jangan keseringan makan junk food nanti perut kalian bisa 3D hehe.



Sebenernya dua minggu yang lalu saya udah sempet posting "My 21st Reflection", tapi setelah saya baca-baca kayaknya isinya gak cocok, it's not me banget, jadi saya hapus dan ulang lagi dari awal. As usual, tiap pergantian usia saya selalu self-reflection. Sebelum menulis ini, saya baca postingan tahun lalu "My 20th Reflection" 


Kalau ngomongin refleksi, di dalam kamus bahasa Indonesia artinya mencerminkan isi hati atau ucapan seseorang. Jadi disini saya mau refleksi isi hati saya tentang bagaimana rasanya hidup selama 21 tahun. Kira-kira, selama ini saya udah ngapain aja ya?

Oh men, rasanya setengah gak percaya waktu berlari begitu cepat. Btw waktu itu lari ya gak jalan. Catat itu! Semakin tua, semakin banyak yang harus dipikirin, semakin banyak momen yang udah kita lalui, dan banyak juga kesempatan yang kita skip demi memilih pilihan lain.

Kalau lagi me-time dan refleksi diri gini, biasanya saya baca-baca postingan saya dulu. Wiih, alaynya bukan main. Sebenernya agak malu juga sih kenapa dulu bisa sepede dan semiris itu ketika bahas topik jomblo, kesepian, dan butuh pasangan. Bahkan nih, tiap bulan selalu ada #wish yang disitu mention butuh pacar. Oh my... ternyata masa muda saya menyenangkan karena pernah alay haha.

Memori tentang masa lalu mengingatkan kalau kamu pernah melalui masa sulit dan bahagia dalam waktu yang sama. Betapa kuat dan hebatnya kamu bisa melalui cobaan itu. Dan betapa bangganya kamu menjadi dirimu sendiri.
Bahkan saya bisa senyum-senyum sendiri melihat evolusi saya sendiri ketika masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang ini. Mulai dari pikiran kekanak-kanakan sampai bisa sematang ini. The thing is, kamu berubah jadi lebih baik bukan memperburuk.




Ketika detik-detik jatuh ke usia 21 tahun, saya menghabiskan satu menit menunggu angka 00.00 menjadi 00.01. Rasanya campur aduk. Di saat itu saya ada di ibu kota dan menjalani hari pertama magang. saya masih ingat hari itu setengah mendung, dari ke kosan saya jalan kaki meski jaraknya jauh. Menurut GPS, jaraknya 2,4km dan jarak tempuhnya 23 menitan. Karena hari pertama masih semangat-semangatnya, saya berangkat jam 7.30 dan sampai di kantor jam 8. Padahal disuruh datang jam 9. Can you feel how excited I am di hari pertama magang ditambah how gloomy you are di hari ulang tahunmu? Di saat itu, saya cuma berpikir berkesempatan magang di perusahaan ini adalah kado saya tahun ini.

Selama tiga minggu ini (gak nyangka udah hampir sebulan), saya belajar banyak di kota terpadat dan terdinamis di Indonesia ini. Disini, semua orang merasa dirinya paling baik. Satu hal yang harus kamu tahu, jangan pernah katakan dirimu paling baik, tapi buktikan. Ketika ada orang yang understimate kamu, let say, kamu datang dari kampung. Jangan marah atau sedih, karena it's true kamu memang dari kampung. The thing is, buktikan kalau kamu benar dari kampung dan mereka salah kalau kamu itu kampungan. Jakarta adalah battle field setelah Westeros, tapi sayangnya disini gak ada naga atau pedang. Disini pakai otak, mental berkompetisi, dan emosional kontrol yang tinggi. Tanpa senjata itu, kamu mati disini.

Bahkan saya sudah diusir dari kota ini oleh dua orang berbeda, not literally sih. Seperti percakapan yang membahas saya bukan asli Jakarta, mereka langsung berkomentar. "Jangan kerja disini, balik aja ke Malang atau Banyuwangi. Emangnya disana gak ada lowongan ya?"
Hrrg, kadang kesel denger komentar seperti itu. Bukannya apa, tapi saya kesal karena mereka menyebut kota dimana saya dibesarkan jadi bahan olokan. Komentar mereka meluncur seperti ini, "Oh, di Banyuwangi gak ada perusahaan besar kayak disini ya?"
It hurts me. Mungkin saya lebay, tapi saya benar-benar sedih tempat saya dibesarkan jadi ikut direndahkan. Padahal, alasan saya disini untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan ketika saya sudah mendapatkannya, saya mau kembali ke tempat dimana saya berasal dan mengembangkannya.



Oh, ada lagi, saya juga dihujani banyak pertanyaan seperti ini. "Kenapa jauh-jauh magang di Jakarta? Emang di Jawa gak ada lowongan magang lagi ya?"
The question is simple, so the answer does. Coba hubungkan jari telunjukmu dan ibu jarimu. Anggaplah, kamu tinggal disitu. Dunia itu luas men, sedangkan kamu tinggal di lingkaran jarimu itu. Kamu kapan bisa berubah dan berkembang kalau masih tetap bertelur di comfort zone-mu terus. Kamu bisa berubah menjadi lebih baik hanya jika ditempa dan dipanaskan, it means kamu harus keluar dari zona nyamanmu. Jauh-jauh dari Banyuwangi ke Jakarta bukan untuk ngeksis di snapchat, tapi untuk cari ilmu sebanyak-banyaknya yang nanti bisa dipakai saat kembali pulang ke rumah.

What makes you down, it makes you stronger than before. Semakin banyak orang yang understimate kamu, semakin besar motivasi kamu untuk membuktikan kalau itu tidak benar.

Well, alasan saya nyocot panjang lebar mulai dari nostalgia di masa kecil, evolusi hidup, sampai pengalaman magang di Jakarta... that's piece of my reflection. Karena itulah poin-poin penting yang saya pelajari selama 21 tahun ke belakang. You'll never know until you try. Itu kutipan yang selalu saya pegang selama ini. Kamu gak akan tahu apa yang akan terjadi kalau kamu belum pernah mencobanya. That means, take the fucking chance dude.

You May Also Like

0 comments