Before I decide to quit my job, here’s the thing I do

by - December 11, 2018


Hi there, how was your day? Semoga baik-baik aja ya, apapun itu kamu pasti bisa melewatinya. Lagi-lagi aku menulis ini di kereta, it was like train is my second home. For this time.

Bolak balik Banyuwangi-Malang-Jakarta dan begitu terus selama dua minggu terakhir. Ngeluh lid? Nggak kok, bahkan aku rasa tubuhku udah terbiasa dengan kerasnya kursi kereta, jendela yang tadinya terang lalu menggelap, dan aroma pop mie yang menggoda di gerbong.

Aku tadi mau nulis apa sih. Oh ya, cerita tentang proses aku resign ya. Darimana ya aku mulainya, mmm... Gini deh, aku bagi per poin aja ya biar aku enak ceritanya, supaya kamu pun nyaman menyimaknya. Let's do this.

"Perlu waktu dua bulan sebelum mengambil keputusan untuk resign"
Iya, bener banget. Ini bukan keputusan asal-asalan. Perlu waktu lama buatku untuk berani ambil keputusan ini. Aku diskusi dengan mama dan orang terdekat, menanyakan pendapat mereka dan dukungan mereka.

"Why you leave your job?"
Selain pendapat orang terdekat, juga perlu direnungi lagi. Apa sih alasan kuat kita pergi? Baik dari segi personal, lingkungan kerja, dan opprotunity di luar sana. Pokoknya jangan ujug-ujug resign hanya karena hal sepele, pertimbangkan baik-baik dari ketiga aspek itu.

"How I decide to leave"
Karena udah niat nawaitu, udah mempetimbangkan semuanya. Akhirnya aku beranikan diri mengajukan surat resign. Approved? Approved kok, tapi harus one month notice. Wajar, karena perusahaan perlu waktu untuk mencari pengganti, pun juga aku harus memberikan hand over dengan baik.

"Leave best track, nothing left but name"
Kalo ada utang ke rekan kerja, cepet-cepet dilunasi. Sebelum jadi bahan julid sekantor ketima kamu pergi. Ketika kamu udah tau mau cabut dari lingkungan itu, tidak peduli mereka tau kamu resign atau tidak, gak ada salahnya bersikap baik dan memaafkan apabila ada rekan kerja atau atasan yang sempat membuatmu kesal. Ikhlas dan tulus. Kapan lagi ada kesempatan bersenang-senang dengan rekan kerja di waktu yang terbatas, ya gak?

"My time is limited here. I’ll do the best."
Jadi kalau mau cabut dari suatu tempat, aku selalu punya mantra andalan: semakin cepat garis finish itu terlihat, semakin cepat aku berlari. Justru ketika waktuku semakin sedikit, aku semangat buat dealing partnership, bikin aktivasi program dan action plan lainnya. Why? Cause I'm going to leave best track, nothing left but my name.

"Selesaikan handover dengan baik"
Sebenernya handover ya taruh aja semua file di Drive. Kalo penggantinya pinter nanti juga learning by doing. Kalo penggantinya dungu ya udah sih, urusan mereka.
But it wasn’t me. Aku bukan orang yang---yauda terserah what left just left. Pokoknya kamu harus kasih handover dengan lancar dan deliver dengan baik ke penggantimu. Udah deh, gak usah mikirin pikiran toxic seperti---gak ada employee terbaik selain kamu, bahkan penggantimu sekalipun. You know, every position is replacable. But not for people, cause every person in this world is unique right? I’m unique and you have your own way. That’s it.

"Move on, life must go on"
Gak cuma patah hati aja yang butuh move on. Ternyata resign juga lho, apalagi power syndrom. Seperti mendengar keluhan rekan kerja akan keadaan kantor atau performa kantor yang berlika-liku, aduh, gemes sih pengen ikut nimbrung. Tapi ya whatever lah, move on, ternyata bagiku di bagian ini gak mudah.
Apalagi di perusahaan ini, like giving me best farewell ever. How I can forget all people here? But it’s ok, life must go on.

"Lid, apapun keputusan kamu, mama selalu dukung."
Itu restu paling kuat dari mama. Justru dengan itu, aku harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Jadi, apapun keputusan yang kalian ambil, yakin lah itu keputusan yang terbaik. Apa yang terbaik untuk dirimu sendiri.

Udah sih itu aja. To be honest ini pengalamaanku yang kedua, resign tanpa embel-embel langsung keterima di perusahaan. Ya, aku milih pengangguran dulu. Lepasin toxic dari pekerjaan sebelumnya dan siapin amunisi untuk perang lagi. Habis ini kemana Lid? Mau nikah ya? Liburan ya?

Aku punya postingan lagi yang bersambung, menjawab spekulasi dan asumsi kalian. Terima kasih atas dukungan dan perhatian yang kalian berikan, dari sini aku sadar ternyata masih banyak yang peduli. Itu lho, satu pertanyaan apa kabar dan bagaimana saja udah bikin orang seneng. Yaudah, sampai ketemu di cerita selanjutnya ya :)

You May Also Like

0 comments