How to love without getting hurt

by - September 10, 2018


Hai kamu yang lagi enggan tersenyum, apakah harimu menyenangkan? Apapun jawabannya, aku harap tulisan ini bisa menghibur harimu yang kurang bergairah ya. 

Kalo baca judulnya, agak geli gak sih? Aku aja yang nulis udah ganti judul lima kali, akhirnya kembali nulis ide yang pertama. How to love without getting hurt. Keju banget ya?

Kalo kamu baca sampai koma ini, artinya kamu bersedia menyimak sampai akhir. Entah receh atau basi, udah ikuti aja apa kata penulisnya. Setuju?

Bicara tentang perasaan, ketika kamu suka sama seseorang rasanya emang bener dari mata turun ke hati. Dari hati lanjut ke mata dan turun lagi. Gitu aja terus. 
Tiap liat story di Instagramnya, rasanya pengen tahu segalanya tentang dia. Ngepoin tag people di Instagram-nya, kepo siapa aja temennya, sampai menebak-nebak maksud story yang dibuat. Apakah dia sedang sedih? Sedang marah? 

Ada masa di mana curi-curi momen supaya bisa melihatnya. Walopun cuma menatap punggungnya, memastikan dia pakai baju warna apa, tanpa perlu repot-repot menatap matanya. Bertemu aja cukup, ketika udah tau dia pakai warna baju apa, ketika melangkah jauh darinya rasanya bisa senyum-senyum sendiri. Shit, kok dia ganteng ya?

Ada masa di mana berusaha bales story Instagramnya, modus sana sini. Ya namanya juga usaha, sah-sah aja selama itu halal. Ya gak?

Sampai di tahap dia merespon. Lalu pedekate, dari enggan menjadi segan untuk diajak keluar. Siapa sih yang gak kesenengan kalo orang yang disuka juga membalas perasaan?

Wait, jangan seneng dulu, emang yakin udah dibales perasaannya? Cuma dianggep "close friend" aja udah sok-sokan berharap. Cuma pindah chat dari DM ke Whatsap aja udah berani berekspektasi. Kok kamu mudah percaya sama orang sih?

Kebanyakan orang, berharap dulu sebelum melakukan apa yang harus dilakukan. Kalo untuk berbisnis, itu berlaku. Ketika kita bekerja, tentu tujuan kita mendapatkan keuntungan. 
Dalam hubungan, sayangnya bukan gitu cara mainnya. 

Ketika suka sama orang, rasanya pengen berkorban apapun demi kebahagiannya. Sayangnya, rasa suka dan rasa memberi itu diiringi dengan sebuah harapan. Harapan dia akan memberikan perasaan yang sama ke kita. Seolah memberikan sesuatu dengan pamrih, pamrih dengan berharap dia punya perasaan yang sama.

Iya kalau dia bener-bener punya perasaan yang sama, kalau tidak? Harapan itu justru jadi boomerang. Aku udah kasih segalanya, tapi ini balasannya? Kamu terluka bukan karena dia, tapi karena kamu berharap ketinggian. 

Emang salah ya berharap? Oh, bukan itu maksudnya. Manusia boleh berharap, tapi tetap Tuhan yang menghendaki. Berharap itu menyenangkan kok, prosesnya. Berandai-andai, berangan-angan, apakah ada yang lebih indah dari lamunan di malam hari sambil dengerin lagu melow favorit?

Tapi, hmm... aku punya cerita. Aku pun wanita, dan aku pernah jatuh cinta. Kulakukan yang terbaik untuk menjadi wanitanya, berharap dia menganggapku sebagai wanita dan dia berusaha menjadi pria terbaik untukku. Ternyata... sebaik-baiknya kita berusaha, kadang kita gak bisa menebak isi hati manusia sih.

Sempat aku gak percaya lagi sama hal receh kayak gini. Buat apa sih jatuh cinta, ujung-ujungnya sakit hati. Emang ada ya, omongan manusia yang bisa dipercaya? 

Lalu aku berpikir kembali. Emang aku yang bego sih, too much expectation will kill you slowly. Ketika aku kasih perhatian lebih, mengorbankan waktu dan materi, aku berharap dia akan memperlakukan yang sama. Ternyata tidak begitu, lah kan dia yang punya persaaan, suka-suka dia dong mau gimana.

Sejak itu, aku mengubah pandanganku. Bukan berarti aku tak berani memulai hubungan atau jatuh cinta lagi. Lebih tepatnya ketika aku menyukai orang, memberinya perhatian, kulakukan terbaik untuknya, aku melakukannya dengan tulus. Tanpa berharap apakah dia akan suka atau sebaliknya, itu hak dia. Kan yang punya perasaan dia, kita mah yang penting ikhlas. 

Sama halnya seperti cintanya orang tua ke anak dan sebaliknya. Memberikan apapun karena tulus tanpa mengharap apapun.

Sama juga dengan berteman. Ketika kita berteman, kita gak mengharapkan apapun, yang penting membantu dengan ikhlas. Rasanya gak perlu repot-repot mikir timbal balik atau pun pamrih. Dengan begitu, kamu bisa mencintai orang tanpa rasa luka.

You're ready to start, ready to end it. There is no need to expect much, because you have done your best. Instead of focusing on the results, focus on appreciating yourself for trying. Learn to appreciate the effort you have made.

Well, that's little tips from Lidya, how to love without getting hurt. Gimana? Apakah tulisan ini membuat hidupmu jauh lebih baik atau lima menit terbuang sia-sia?

Apapun pendapatmu, thank you for coming, it means a lot. Taruh cucian di mesin cuci, cukup sekian dan termakaci~

You May Also Like

2 comments

  1. oh, jadi begituu antisipasi patah hati. okedeh, besok praktek. :)

    ReplyDelete
  2. sifat manusia itu rumit, yang didepan bagus dibelakang belum tentu.. bukan juga yang jelek didepan bakal bagus dibelakang sih. poinnya manusia itu super unik setiap individunya, cinta itu soal kesepakatan bersama untuk saling menghargai dan saling mengisi. karena pasangan ibarat kepingan puzzle terakhir yang menyempurnakan maka harus saling menutupi kekurangan dan memaksimalkan kelebihan dari kedua belah pihak tanpa harus ada satu pihak yang terbebani.

    ReplyDelete