Sometimes we need time to vanished for a while

by - August 26, 2018


Waduh gimana nih, Agustus kok udah mau habis aja sih. Terakhir aku update bulan Juli, itu artinya udah hampir sebulan aku away dari sini. Gak ada yang kangen kan? Hehe.

Fyi aja sih, akhir Juli kemarin usiaku bertambah jadi 23. Waktu berpikir tentang 23, aku auto-cari postinganku di usia 22 dan ketemu. Aku menulis tentang "22 y.o & dilema about her life choosing career path". Kadang ketawa geli sendiri bacanya, rasanya udah setaun ya melalui masa itu.

Masa dimana selesai ngerjain tugas skripsi, sebar CV kemana-mana dan perasaan ingin meninggalkan Malang meggebu-gebu. Aneh ya, ternyata aku punya feeling ingin meninggalkan kota ini dari dulu, tapi kok semakin ingin meninggalkan semakin banyak alasan untuk tetap tinggal.

Di umur segini, udah mulai memasuki quarter-life crisis. Tiap weekend dapet undangan nikah dari temen, daaan semakin ke sini kita gak bisa nebak orang itu akan jadi apa. Ada temen yang aku prediksi dia peduli dengan karirnya dan mengesampingkan hal pernikahan, lalu beberapa hari lalu dia mengabarkan akan menikah tahun depan. Really?

Aku pun jadi takut. Ketika orang memprediksikan aku akan jadi apa, wanita karir kah atau seorang ibu rumah tangga yang setia pada suaminya. Lalu kupikir kembali, kenapa aku gak bisa jadi keduanya?

Udah ah. Kok jadi berat nulisnya. Sebenernya gak mau bahas begituan, apalagi mama nyeletuk, "Di usia kamu sekarang ini lid, mama dulu ngelahirin kamu lho" katanya. Aku gak perlu repot-repot jawab tapi membatin, "Dan di umurku yang sekarang, aku cuma order go-food dan lanjut streaming indoXX1".

Sebulan aku gak update, bukan berarti aku lupa dan gak ada konten yang ingin diupload. Banyak kok yang nge-draft, tinggal dirapihin dikit dan post. Masalahnya? Lagi pengen ngilang aja untuk sementara waktu. Kenapa?

Pernah gak sih kalian tuh capek swipe-swipe story Instagram? Itu yang aku rasakan, tapi bukan secara harfiah bosan dengan Instagram. Itu cuma analogi, yang sesungguhnya bener-bener capek sama segalanya. 

Itulah kenapa aku hobi deactive Instagram. Bukan karena kepencet likes post orang buat kepo lalu menghilang, tapi beneran lagi pengen menenangkan diri. Tanpa mempedulikan Instagram dan teman-temannya, pikiran itu bisa agak fokus. 

Tau gak sih, hal yang paling kusuka itu ketika bisa ngopi sendiri di cafe dan menulis seperti ini. Selain kemarin ingin menghilang sementara, kebetulan kerjaan di kantor itu lagi peak banget dan aku jarang bisa kabur untuk sekedar ngadem di cafe sendirian. Aku rasa semua orang punya cara beda untuk menenangkan hati dan pikirannya, betul begitu?

Intinya sih, gak perlu ragu 'menghilang' untuk sementara dan kebaikanmu. Everyone in this world needs space. Bahkan dalam hubungan pun, butuh ruang untuk merindu supaya gak bosan. Apalagi untuk dirimu sendiri.

You May Also Like

0 comments