We can't stop comparing our self to others

by - June 21, 2018


Hai hai, masih sehat? Kamu jangan sakit ya, jaga kesehatan. Jangan telat makan dan minum air putih yang banyak :)

Ada uneg-uneg yang pengen aku tuangkan. Tentang ketidakbisaan kita berhenti membandingkan diri sendiri dengan yang lain. Aku selalu berusaha membunuh perasaan itu dengan berpikir; "Yauda lah, bersyukur. Masih banyak yang belum seberuntung aku,". Tapi ya namanya manusia, gak pernah puas, bahkan langit pun bukan batasan manusia untuk puas dengan apa yang mereka punya.

Ada pepatah bilang, "Sky is the limit" Lol banget. Manusia gak pernah puas. Intinya gitu.

Oke aku awali ceritanya ya. Jadi pas pulang kampung, kebetulan tahun ini ada agenda bukber alumni SMA. Oh my...ternyata aku terakhir SMA lima tahun yang lalu. Waktu berlalu begitu cepat, tuwir bingit ya eyke :(

But that's not the point. Waktu buber, ya biasalah kami grouping. Apa yang kami lakukan? NGEGOSIPP dong bokk ulala jangan kasih kendor. Sebelum berangkat, sebenernya aku gak begitu tertarik dengan acara buber alumni. Semacam ajang pamer (baik itu disengaja atau tidak sengaja), perasaan campur aduk minder dan self-comparing to others makin gedhe. Tapi kata mama, "Udah...ikutan aja sana. Sosialisasi. Setahun sekali kan?"

Awkward.

Itu kesan buber alumni SMA kemarin. Basa-basinya emang beneran basi. "Eh sekarang kamu kerja dimana? Jadi apa? Enak gak kerja di sana?" bahkan sampai pertanyaan gak etis seperti, "Kamu digaji berapa di sana?" pun juga ditanyain. Oh people, c'mon, you know proper question for a stranger, right? Don't cross the line! 
Pertanyaan semacam itu justru menunjukkan betapa kamu membandingkan dirimu dengan yang lain. So please, in any occasion, berhenti nanya privasi orang terutama tentang finansial. It's not polite, at all.

Aku lebih memilih topik mengingat masa lalu daripada harus bahas seberapa jauh pencapaian masing-masing. Bukan berarti aku gak kepo, tentu kepo lah, banget. Manusia dilahirkan untuk kepo satu salam lain, apalagi dibantu dengan teknologi, semua jadi lebih mudah mendapatkan informasi. 

Ada momen dimana aku duduk diantara mereka sambil ngabisin teh botol, ada temen cewek yang jadi 'center' dan cerita tentang kerja di perusahaan yang aku impikan (tapi aku gagal masuk situ). Dia resign dari perusahaan itu karena memilih untuk menikah, really, menikah! Double damage. She's already got 2 point and I'm zero bahkan minus. Aku cuma gigit gigit sedotan aja. Kalah telak.

Apalah aku, debunya butiran debu. Wanita usia 22 tahun, think that she's something but she's totally nothing, physically not beautiful and unattractive, nothing to be proud of. 

Lah kenapa kok tiba-tiba aku merendahkan diri ya? Entahlah. Sepertinya itu manusiawi, emang ada ya aturan kita dipaksa untuk tetap jadi pemenang? Sesekali kalah dong, and that's how the game played. It doesn't mean we give up, not now doesn't mean we can not get it by tomorrow, right? Bukan sekarang, artinya bukan berarti gak bisa dapetin besok. 

Back to classic quote; let time answer it, let time finish it. Yauda intinya sih tunggu aja, waktu pasti akan menjawab apa yang sudah terjadi hari ini dan besok pasti nyambung.

Apa yang ingin aku sampaikan dari tulisan di atas, aku akui---sebagai perwakilan manusia yang bernafas di bumi, kita gak bisa berhenti membandingkan diri dengan yang lain. Merasa rendah atau merasa tinggi sampai timbul istilah sombong atau congkak, itu wajar, itu manusiawi. 
Hanya saja, kita 'kan makhluk sempurna, dikasih kemampuan untuk memilih mau jadi apa dan bagaimana. Baik dan buruk pun, cuma diri sendiri yang bisa menentukan. Bukan orang lain atau orang terdekat sekali pun. Like, you know lah, you're the only who understand who you are, more than anyone in this planet.

The thing is, sky is not your limit. You're limitless. Iri itu boleh, tapi jangan berlebihan. Obatnya biar gak terlalu rendah diri yaitu bersyukur. Kamu bisa menghirup oksigen di dunia ini dengan normalh, tanpa alat bantu selang oksigen. Itu aja kamu harus bersyukur.

Perlu diinget, sesuatu yang terlihat indah belum tentu indah. Apalagi bicara tentang pencapaian di karir. Orang bilang sih "sawang sinawang", rumput tetangga memang lebih indah, tapi kita gak tahu berapa besar tagihan airnya dibandingkan punya kita. Ya gak?

You May Also Like

0 comments