Memahami Apa Itu Arti Syukur

by - December 15, 2016


Pagi ini random nanyain beberapa orang dengan pertanyaan yang sama. "Kalian akan merasa bersyukur ketika apa?" Ini jawaban mereka:
1. Bakal bersyukur ketika manggungnya lancar (dia anak band). 
2. Bersyukur ketika bisa bernafas. 
3. Bersyukur ketika ada yang hubungin (dibutuhkan). 
4.Bersyukur ketika tap in fingerprint belum telat. 
5.Bersyukur ketika bisa bangun tidur dan ada makanan tiap hri. 
6.Bersyukur ketika bisa ketemu sama orang rumah. 
7.Bersyukur ketika bisa menemukan makna dari sebuah masalah yang dialamin. 

Dari jawaban diatas, mana yang menurutmu paling kamu banget? Kalo aku sih, aku bakal merasa bersyukur ketika bisa bangun pagi sebelum jam 7, itu udaranya seger banget dan bisa melakukan segala aktivitas tanpa keburu-buru berangkat kerja. 

Di postingan ini aku bakal coba memahami, apa sih rasa bersyukur itu? 
Kalian dan aku pun tahu sebuah fakta: Tidak ada hari tanpa perasaan bete atau kesel. Ban bocor di tengah jalan, duit tiba-tiba ludes gak ada jejaknya, dimarahin orang tanpa alasan jelas, bangun kesiangan, sampai mau parkir diserobot orang. Trust me, suck always happen. 
Tiap hari kita sering ngumpat, mulai dari Astaghfirullah sampai anj*ing. Dari mengumpat bisa menjalar ke yang lain. Mulai dari komplen, nyinyir, sampai menyindir. Andai tabiat itu dijadikan sebuah ilmu akademik, aku yakin orang Indonesia punya gelar master semua. 

Kemarin sempat bete dihubungi terus sama papa. Karena beliau punya aplikasi video call baru, jadinya sehari tiga kali video call-an. Padahal (menurutku) itu gak penting banget. Pas lagi ngumpul sama temen, calling. Pas lagi streaming youtube, calling. Pas mau mandi pun, calling. Hrrrg. Sampai keselnya kadang gak aku angkat. But at the moment, disitu ada temenku liat aku lagi video call-an sama papa. She said, "Enak ya lid, kamu ditelfonin terus sama papa kamu." *tiba2 suasana jadi blue* fyi temenku ayahnya udah gak ada. Itu baru satu. 

Kemarin juga, aku sempet debat sama mama sampai akhirnya kita berdua gak kontak selama seminggu (udah kayak couple aja ya?). Dan dua-duanya punya gengsi yang tinggi, jadi gak ada yang memulai baikan. But you know what happen? Pas lagi ngerapihin label postingan di blog ini, aku nemu beberapa postingan tentang keluarga yang nyeritain betapa hebatnya mama. Betapa aku kagum sama dia, betapa aku bangga punya dia. *tiba2 suasana jadi blue lagi* Rasanya kayak "Oh...ya ampun..." Di saat itu juga aku langsung whatsap beliau, memulai percakapan gak penting seperti menanyakan kegiatannya hari ini dan apakah sudah makan atau belum. Sederhana. Btw itu yang kedua ya. 

Yang ketiga nih, yang ketiga. Di pagi hari yang gak begitu cerah, pas mau nyalain laptop tiba-tiba keyboard deretan number sama qwerty mati. Bener-bener gak berfungsi. Pilihannya cuma dua, ganti keyboard laptop atau beli yang portabel. Kalau pakai portabel, rempong banget harus bawa kemana-mana. Kalau keyboard laptop, harganya lebih mahal dan (pasti) ngerepotin mama lagi. Di momen setelah berdebat, aku ngabarin kalau keyboardku rusak dan mama cuma bilang "Ya ganti aja lid keyboarnya" yang costnya gak murah. Di saat itu, hmm... rasanya kecewa sama diri sendiri yang sempet menjauh dari mama selama seminggu. Giliran pas baikan, langsung nyodorin tagihan duit. Can you feel my feel? 

Dan pagi ini, akhirnya aku bisa bangun pagi! It feel so good. Pas mau mandi, pakai baju, dan tepok-tepok bedak di wajah bisa sambil nyanyi-nyanyi. Biasanya sih gimana caranya dalam 15 menit harus siap berangkat ke kantor karena tabiat bangun kesiangan. Pas absen fingerprint, bisa masuk 07.55 meskipun cuma mepet 5 menit. Bisa nyapa temen-temen kantor "Selamat pagi", duduk dan membuka laptop lalu mendengarkan lagu sambil menyelesaikan tugas. Bisa ngabarin papa dan mama kalau anaknya ini baik-baik saja. Bisa bantu jawab temen-temen yang nanya bantuan meskipun via chat. Aku sepemikiran dengan jawaban rasa bersyukur no 3, bersyukur ketika ada yang hubungin alias masih dibutuhkan. Merasa valuable even just for a little. That's the way how I understand what grateful mean. How about you? 

Dan, gaes, when you feel so down...when you feel you're in the lowest point, just remember... 

Gak usah jauh-jauh, coba pikiran betapa kamu dicintai orang rumah (meski mereka gak menunjukkan secara jelas, but they really mean it, I sure). Betapa bersyukurnya orang ketika mereka menerima bantuan dari kamu. Dan plis plis banget jangan pernah merasa kalau diri kamu gak worth it, everyone in this world worth to fight for and everyone deserve way better than other's thinking. Jadi? Jadi ngapain kalian masih baca disini? Cepet kabarin papa atau mama kalian, tanyakan apa kabarnya hari ini dan minta maaflah jika kamu ingin hubunganmu baik sebelum ada perpisahan tanpa ada notifikasi tanda merah. Jadi ya selagi sempet...karena kita gak bisa subscribe takdir orang 'kan.

You May Also Like

0 comments