Tidak Peduli Tulisanmu Buruk Atau Jelek, Tetaplah Menulis

by - May 15, 2016


Hi, there. How was your day? Hope you always got your memorable days. 

Mau curhat dikit nih, gapapa ya hihi. As you know, kemarin adalah minggu-minggu terberat yang harus dijalani. Karena banyak deadline dan project yang harus dikerjain. So many things happen. Banyak mengeluarkan tenaga, pikiran, materi dan terlebih lagi menguras waktu. Sibuknya mahasiswa deh, paling parah seumur hidup.


Nah, berhubung acara udah selesai, jadi ngerasa...empty. Terlebih, ngerasa kesepian. Kemarin harus lembur sampe malem bikin planning atau berkutat dengan laptop, sekarang dari pagi ayam berkokok sampe adzan magrib berkumandang cuma guling-guling skrol timeline. Merasa manusia tergabut sedunia.

Udah jarang ada agenda meeting sama stakeholder maupun sama tim sendiri. Tiba-tiba nge-blank aja, drastis jadi mahasiswa paling nganggur sedunia. Yang bikin nyesel itu, ketika seharian gak produktif dan gak ngelakuin apa-apa. Ya itu tadi, skroll timeline dan buka-tutup akunmedia sosial. 

Jalan sama temen sih udah. Malah tiap hari nyari temen main. Kita tiap hari hengot as usual, but at the end, kalo udah di kamar bingung mau ngapain lagi. Kesepian lagi. Dan itu terjadi terus-menerus. Kegabutan-tanpa-henti.

Akhirnya, yauda deh, berhenti streaming youtube dan buka postingan blog lama. Di sisi lain mencari sesuatu, apa sih yang bikin se-gak produktif, gak termotivasi, dan membuat manusia ini tidak berpotensi apa-apa.

Sambil ketawa-ketawa baca kealayan tulisan lama, disitu tercetus sesuatu. OMG... I realized big something. Apa yang membuat Lidya-yang-dulu gak kesepian itu karena dulu dia suka nulis. Biarpun tulisannya gak penting, kind of sampah, tetep aja ditulis dan di post. 

Sedangkan apa yang membuat Lidya-yang-sekarang kesepian adalah, dia udah ngelupain kebiasaannya dulu dan terlena dengan dunia-sibuknya. Maybe this is looks so fluffy but, ngerasa malu sama Lidya-yang-dulu. Seolah dia sekarang ngetawain "Mampus lo!" karena selama ini udah ngelupain hobi nulis-yang-justru itu teman terbaik sepanjang hidup. Alay ya? Tapi ini serius loh. Aku coba jelasin dikit, semoga meaningful.

Apa yang bikin aku males nulis adalah, karena sekarang aku kalo mau nulis itu masih mikir branding. You know branding as well 'kan? Ketika mau nulis bebas dan siap nge-klik menu "Publikasikan", terbesit bisikan-bisikan kecil. "Yakin mau nge-post ini?" "Udah umur dua puluhan mau nge-post tulisan fluffy gini? Iiieww~"
The thing is, aku harus jaga konten apa yang pengen aku post, beda saat SMA dulu. Kalo SMA, nge-post konten kejombloan yang parah-separahnya dan se-alay alaynya, who cares? Sekarang, mau nge-post something that doesn't important at all cuma bisa jadi museum di draft.

Belum lagi, nih aku punya cerita. Aku 'kan suka tuh jalan-jalan ke toko buku, sering banget menemukan buku yang diobral dengan harga mulai dari 5000 rupiah aja. Melihat buku obralan 5000an, aku coba lihat kontennya seperti apa. Yang bikin miris itu, ketika melihat sebuah novel indah yang dihargai 5000 rupiah dengan jumlah halaman hampir 500an. Seandainya aku penulisnya dan melihat karyaku dihargai 5000 rupiah saja, disitu aku pasti menyesal seumur hidup diberkahi bakat menulis dan mencetak sebuah buku. Kisahnya sama seperti para petani tomat yang ketika panen, tomatnya hanya dihargai 300 rupiah per kilonya.

Jadi, cerita diatas semakin bikin down. Ngapain sih kamu nulis, untungnya apa? Mau jadi obralan 5000 rupiah aja?

Tapi, back again. What makes you become a person, it can be seen from what you wrote. How you can share people opinion with yours, how you can show your feeling through words, and this is the best way how to express your mood literally. 

Aku jadi sadar. Tanpa menulis, aku mungkin gak bisa jadi orang seperti ini. Salah satu manfaat nge-blog ya, as you know, sebagai barometer perubahan pola pikir kamu. And it's really happen to me. Karena aku bisa melihat tulisanku mulai dari tahun 2011 sampai sekarang, perlahan berubah. Ada perubahaan disitu, dan itu terekam disini. It makes me...thank you so much for my writing will.

Jadi, sekarang, aku belajar sesuatu. Kalau mau nulis, yaudah nulis aja. Gak usah mikirin what people think about your words. Gak usah mikirin, kalo aku nulis gini nanti dianggap jelek? Oh, baby, it was just your thought. Masih inget perkataan Clive Barker, ma fovirite writer Abarat, dia pernah bilang kalo jadikan menulis itu pekerjaanmu. Tiap hari harus menulis. Gak peduli tulisanmu jelek, menulislah.


Siapa tahu, menulis bisa jadi teman terbaikmu. Sesibuk apapun aktifitasmu dengan dunia deadline, kalau kamu merasa kesepian dan ngerasa... I think it's a right time to write. You can write anything. Could be your daily life, your fictions imagination, and anything else. It's up to you. Just write it.

You May Also Like

3 comments

  1. aku suka tulisannya mbak. aku penggemarmu. mohon balasannya ^^
    -Bilawa Dwi Prayoga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Bilawa. Terimakasih sudah membaca :)

      Delete
  2. menulis lah, jangan berhenti untuk menulis ya dek

    ReplyDelete