HARDEST WEEK EVER!

by - April 19, 2016


HELLO THERE. HOW WAS YOUR DAY? HOPE YOU ENJOY YOUR GREAT DAY AS ALWAYS. WELL, LET'S TURN OFF THE CAPS BUTTON. Oke, like this, looks better.

Sesuai dengan judulnya, minggu ini adalah salah satu minggu terberat dalam dua puluh tahun terakhir. Berangkat pagi pulang malem, lembur sampai subuh, bangun pagi lagi. Udah kayak lagunya Armada yang dikoploin. Intinya, too many things to do, sampai gak sadar kalau jarum jam berputar, tau-tau udah berganti tanggal. Meski begitu, I got a lot of learning point from this hardest week ever. Skrol ke bawah dong kakak.

Salah satu alasan kenapa bisa jadi minggu terberat, karena punya tanggung jawab di beberapa project. Salah satunya adalah handle dua event di posisi yang sama. Awalnya cukup messed up, timeline berantakan. Tapi lama-lama bisa menyesuaikan. Gimana ya, kamu tau kamu bakal capek ngerjain ini itu. Tapi gimana jadinya kalau kamu ternyata udah jatuh cinta dengan kesibukanmu sendiri? Ya, disitu lah letak keseruannya.

Ada banyak pelajaran yang bisa didapat di minggu ini. Apa aja? Coba aku breakdown satu-satu ya.

1. Stress & Priority Management
Seperti yang diceritain awal tadi, megang dua event sekaligus itu pekerjaan yang gak mudah literally. Itu cukup bikin kepala meledak, tapi sampai sekarang toh masih sempet bernafas dan ngetik. Stress management yang dimaksud itu melibatkan banyak hal. Misalnya aja, dalam satu hari di detik yang sama, kamu diharuskan ketemu orang berpengaruh di tempat yang berbeda. I mean, double timeline yang bentrok. Duarrr. Body gesturnya sih ala ala tepuk muka sambil menghela nafas menggeram kesal. 

Nah, di momen itu lah, kamu harus realized. Bukan waktunya ngeluh sama keadaan, time to take an action. Meskipun kamu harus mengorbankan yang lain, kamu tau mana yang harus dilakukan. Kamu tau mana yang harus didahulukan dan disampingkan. Dengan begitu, kamu bisa ngatur mulai dari waktu dan besar kecilnya keuntungan kalo kamu melakukan itu.

2. How To Lead A Team
Sebagai pemimpin, maka udah kewajibannya untuk mengayomi anggotanya. I have two events that I should take care of. Mereka adalah International Career Day dan Backpacker Street Food Festival. Kalau ICD itu salah satu amanah dari AIESEC, sedangkan BSFF adalah amanah dari jurusan Ilmu Komunikasi. ICD terdiri dari enam orang, sedangkan BSFF terdiri dari dua puluh empat orang. Tentu dari dua event itu, beda cara nge-lead, nge-treat, dan segala operasional kerjanya. Kalau di ICD, karena cuma dihandle anak 6, jadi ngaturnya gampang meskipun tugasnya per member berat. Apalagi disana jadi kapel sekaligus senior meski cuma beda satu tahun. Jadi, ketika nyuruh anak-anak ICD ngerjain ini itu, mereka langsung gas tanpa interupsi. 

Berbeda dengan tim BSFF, kita sama-sama seumuran dan teman sekelas. Jadi, ketika ada intruksi belum tentu dijalanin, masih diolah, dirembukin, dan prosesnya cukup lama hingga menemukan kesepakatan bersama. Menyatukan misi dan tujuan 24 kepala itu pekerjaan yang tidak mudah. Tapi, disitu letak "challenge"-nya. 

Meskipun begitu, how I lead them, I lead them with my own way. Kalau ada pertanyaan, How can you lead your team? Maka jawaban saya adalah lead by example. Sosok pemimpin bakal nurun ke anak buahnya. Jadi, jadilah contoh yang baik dulu, not kind of bossy nyuruh ini itu tapi gak kerja. Apalagi cuma ngomong coro alias tong kosong nyaring bunyinya. Selain itu, personal development each member does more important than the job description itself. Maksudnya? Maksudnya adalah, bangunlah sense of belonging dalam timmu. Buat mereka nyaman dengan teammates mereka, maka dengan begitu mereka bakal bekerja dengan inovasi dan insiatif mereka sendiri, bukan nunggu perintah dari atasan. Maybe I'm not a perfect leader, but I've tried my best. Well, that kind of my leadership style.

3. Self-Controlled
Sebelas dua belas sama stress management. Intinya, kamu bisa menguasai dirimu dulu sebelum berani menguasi orang apalagi sebuah tim. Bahasa halusnya sih, kind of baper. Jadi pemimpin tuh, jangan baperan. Ubah mindset yang suka tersinggung jadi open mindset. Sebuah kritikan adalah revisi yang harus dilakukan, bukan dikeluhkan balik. Kalau kamu merasa salah, minta maaf. There's no gengsi-gengsian, fuck off with that. Kalau kamu merasa benar, meskipun tidak baik, kamu harus melakukannya. Contohnya? Meskipun dia sahabatmu sendiri, tapi secara professional kalau kerjaannya gak baik, kamu berhak mengkritiknya. Bukan bermaksud menghancurkan persahabatan, nooooo. Good leader did right things, not doing a good thing. Melakukan hal benar, bukan hal yang baik.



Selain itu, good leader is a good listener. Kamu harus bisa jadi pendengar baik. Bukan cuma pendengar, tapi juga motivate them the way you need motivation from a leader. Mempriotitaskan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi juga hal yang harus diperhitungkan.

4. Efek Samping Minggu Terberat
Timeline kerjaan emang gak messed up, tapi efek sampingnya bergelimpangan di diri sendiri. Dimulai dari keadaan kamar. Cucian tingginya udah kayak gunung Himalaya dan persis obralan baju sepuluh ribu dapet tiga. Efek lain juga ngena di tugas. Jadi gak bisa fokus di beberapa tugas kelompok, but it doesn't mean I lose it all. Tetep ngerjain tapi gak sempurna, alias yang penting ngerjain. 

Efek paling parah goes to...jadi pikun dini. Sangking banyaknya sesuatu di kepala, jadi sering lupa. Hape aja udah ketinggalan di tempat umum tiga hari berturut-turut, untung Allah masih baik jadi dikembaliin lagi hehe. Untung hidung, mata, telinga, otak, apalagi nyawa nyatu ya. Kalo misal dijual terpisah, wah gak yakin masih bisa jadi manusia utuh.


The big point is, believe in yourself. The one who can create "you" to be a person, it's only "you".  Kalo kamu ngerasa apa yang sudah kamu pilih itu benar, meski seberat apapun tantangannya, then just fuckin do it. Gak peduli seberapa besar tekanan yang bikin kamu fuck up, let it be and trust the process. Pasti berlalu kok. Dan percayalah, shit always happen. Gak ada rencana yang berjalan sempurna, sometimes ada kegagalan yang memacu kamu untuk berubah menjadi lebih baik. Well, that's all my hardest week story. 

Hardest week doesn't mean an accident for me, tapi justru sebagai batu loncatan untuk belajar lebih baik dari pengalaman yang sudah berlalu. So, for you, jangan ragu untuk mengambil tantangan. Sometimes it feel like a crap but how if those craps create you become stronger and better person.

You May Also Like

0 comments