Adik Kecil Anak Tukang Sate

by - July 01, 2015

Sumber: www.guilfordchildren.org
Hi, there. How was your day? Semoga puasa dan aktivitasnya lancar ya. Amin. Mau bagi cerita pendek yang mungkin saja bisa jadi pelajaran. Because everyday is your learning, right?


Kemarin malam, saya dan teman kos pergi ke warung sate untuk beli lauk sahur. Setelah pesan ke bapaknya, saya dan teman saya duduk di dalam yang kebetulan gabung dengan rumah tukang satenya. Ini bukan nyeritain seberapa enaknya sate daging ayam atau kepulan asap yang menggoda indra penciuman. Tapi saya akan bercerita anak tukang sate yang masih berumur sekitar 2-3 tahunan. Seumuran lah sama adik saya, Farel, yang baru merayakan ultah yang ke-3 kemarin lusa.

Saat duduk di ruang makan yang sempit, saya bisa melihat seisi rumah tukang pak sate. Sempit dan penuh. Disana duduk adik kecil laki-laki menggenggam kertas yang disobek-sobek sambil menatap layar televisi. Tontonannya indosiar, melihat Nazar dan alisnya yang cetar beraksi sebagai komentator. Saya agak prihatin. Seharusnya adik kecil seumurannya bisa nonton Barney and friends atau tontonan di channel Cartoon Network. Tapi yasudahlah, toh kendali media penyiaran di Indonesia sudah tercebur ke dunia politik--tidak menyisakan siaran edukasi untuk adik-adik di rumah.


Adik kecil itu menoleh, saya melambaikan tangan. Dia berdiri dan menghampiri saya. "Hai, adek. Sini-sini." panggil saya.

Dia menghindar dan tertawa saat tangan saya mencoba meraihnya. Dia terus berlari-lari mengitari ruang makan, mencari perhatian, dan mengajak bermain. "Hai, adek. Namanya siapa?" "Hai, adek. Awal jatuh!" "Dek, namanya siapa?"
Daritadi dia hanya tertawa dan bubling (berceloteh) tidak jelas. Oh, mungkin adek kecil ini tunarungu. Meski begitu, saya tetap mengajaknya bermain. Bahkan dia mengambil beberapa buku dan menunjukkannya pada saya. Dia menunjuk beberapa gambar dan terus bubling dengan kata yang tentu tidak bisa dipahami. Tapi ekspresinya dan cara dia berinteraksi sudah benar. Mimik mukanya seolah dia benar-benar sedang bicara layaknya adek kecil normal. Saya merespon dengan memberinya perhatian dan mengiyakan apa yang dia ucapkan.

Tapi, dia bisa menyebut kata-kata umum seperti "mimik, bubuk, maem". Which mean, dia bukan tunarungu. He's normal! Alhamdulillah.

Yang bikin saya kecewa adalah, orang tua mereka. Ibunya ngobrol dengan ibu lain di depan warung, sedangkan ayahnya sibuk mengipasi sate. Dia dibiarkan di dalam rumah tanpa pengawasan. Entah ini benar atau salah, saya menyimpulkan kalau interaksi adik kecil dengan orang tuanya sangat kecil intensitasnya. Buktinya, si adek kecil bisa lho spelling kata umum. Dia normal dan gak tunarungu. Hanya saja, yang dibutuhkan hanya interaksi setiap hari dari orang tua, mengajaknya bicara terus menerus. Sayang sekali, adik kecil kurang beruntung mendapatkannya dari orang tuanya.

Pelajarannya, kalau kamu punya adik kecil, jangan abai. Masa sih ke pacar aja perhatiannya sebesar itu, tapi ke adik sendiri cuek bebek. Anak kecil itu belajarnya dari role model, dia akan belajar dari orang-orang terdekatnya. Jangan biarkan masa-masa lugu mereka dirusak orang dewasa yang apatis.



Itu aja sih cerita pendeknya. Semoga bermanfaat.

You May Also Like

0 comments