Rumah Nenek, Selalu Hijau Selalu Merindukan

by - March 13, 2015

Kurang lebih tiga minggu waktu liburan semesteran kemarin dihabiskan di rumah nenek. Rumah yang sekarang jadi tempat masa kecilnya Farel dan Nova. Rumah nenek jauh dari kota, dekat hutan, dan asri. Kalo dibilang desa sih, emang iya. Sinyal internet aja susah banget, tapi kalau sinyal untuk sekedar telfon dan sms bisa. Jadi kadang sering berantem sama pacar kalo aku lagi liburan di rumah nenek gara-gara miskin sinyal. 


Selain asri dan suasana alam yang segar, rata-rata penduduk di daerah rumah nenek punya ternak sapi dan memanen sayuran atau buah-buahan di ladang. Sebagian penduduk disana adalah keluarga nenek. Jadi tetangga kanan kiri adalah keluarga. Alur tali persaudaraannya panjang, jadi ada yang dia itu sepupunya mantunya adiknya nenek atau keponakan dari besannya sepupunya kakaknya kakek. Nah, bingung kan? Sama, aku juga bingung. Pokoknya keluarganya kakek nenek sebagian besar ngumpul disitu beranak pinak dan bahagia forever and after.

Susahnya, dari rumah nenek gak ada jajanan es krim atau supermarket macem indomart. Yang ada warung kecil yang nyediain jajan itu-itu aja. Meskipun begitu, ada yang aku suka kalo di rumah nenek. Mau makan buah apa aja ada dan itu gratis. Pakde Mudiran, yang rumahnya sebelah rumah nenek kalo pulang dari ladang selalu bawa buah duren dan itu setiap hari.

Bukan cuma itu, disana aku merasa benar-benar diperhatiin sebagai keponakan yang disayang. "Lidya minta apa?" atau "Lidya pengen makan apa?"
"Aku pengen makan buah rambutan, Bude."
"Oh, ayo ke rumah nenek Ju." Nenek Ju itu adiknya kakek. Disana, udah tinggal naik kursi dan metik buah rambutan sendiri.
Kurang enak piye?

Selama di rumah nenek, makanan penuh nutrisi. Gimana enggak, pagi disiapin pisang. Siangnya makan rambutan. Sorenya makan durian. Malemnya bakar ikan kalo pas ada yang pergi mancing di sungai. Kurang enak piye?

Yang aku suka di rumah nenek, mother language disana adalah bahasa madura. Di depan keponakan yang cantik ini mereka selalu menggunakan bahasa Indonesia meskipun terbata-bata. Disitu aku merasa sangat, sangat dihargai. Karena memang aku gak bisa bahasa Madura tapi aku bisa ngerti apa yang mereka katakan. 

Selain itu, yang bikin aku tambah seneng disana karena semua keluargaku disana selalu kasih wejangan atau saran. Entah itu pagi siang atau malam, disaat duduk bersama ngobrol di ruang tamu ditemani singkong hangat atau pisang goreng. Entah itu pakde, bude, atau bahkan nenek sekalipun. Kadang seru juga ngobrol dengan mereka.
"Lidya kapan lulus kuliah?"
"Masih lama, doakan ya, Nek. Nanti dateng acar wisuda Lidya ya?"
"Iya, doakan nenek umur panjang, ya." Duh, merinding denger kata nenek yang satu ini. "Kamu kuliah yang pinter ya. Mama kamu nyari uang susah, cepet lulus kuliah biar bisa kerja biayain adik-adikmu. Ya?"
"Iya, nenek sayang..." Her advice was like my map when I got lost in the hopeless place.

Well, that's little thing called sweet home. Someday I will build my own sweet home, will you be the one? *udah macem iklan parfum aja* And someday, if  you already build your own sweet home, will you take me to be with you? *masih tetep ngerayu*
Udah ah, itu aja cerita singkat dari rumah nenekku yang masih hijau. Mana cerita rumah manismu?

You May Also Like

0 comments