She Already Talk About Married

by - February 20, 2015



Hi, there. How was your day? Hope you're always have a good time with your friends. As you know, waktu terus berjalan dengan membawa perubahan. Rambut yang pendek udah mulai panjang lagi. Kuku yang tiap dua minggu sekali dipotong, panjang lagi. Dan sekarang musim panen durian pakde bude di ladang, saya masih ingat hampir lima tahun yang lalu pakde baru selesai tanam bibit durian. Well, perubahan itu selalu ada selama detik jarum jam masih berputar.

Keluarga berubah, teman teman berubah, mantan pacar berubah, gebetan berubah, gaya tampilan LINE berubah, dan sahabat yang berubah. One of my besties, Merya, sahabat kecil partner in life, temen yang gak malu keluar rumah cuma modal pake kancut dan kaos kotang sampai temen jalan. Sejak lulus smp, our path went to different way. Kita sekolah di SMA yang berbeda. Dia pintar, pendek, baik, polos, dan manis.

Setelah lulus SMA, dia gak lanjut kuliah. Dia mulai bekerja dan cari uang sendiri. I do really appreciate her eager to earn mone by herself. Meskipun jalan kami berbeda, tapi saya sama dia masih tetep kayak dulu. Masih ngomongin gebetan-yang-sampe-sekarang-belum-tersentuh alias ngidam ngidam tapi kenal pun tidak. Dia juga sering kasih nasihat tentang hidup. "Kamu harus serius kuliah, Lid. Biar nanti bisa cepet kerja, cepet nikah, cepet punya anak." Yah, kalo semuanya serba dicepetin kapan bisa dinikmati?

Kita berdua masih punya selera humor yang sama. Masih suka anime sejak esde, kadang ngomongin naruto atau serial bleach, hari minggu pagi adalah hari favorit yang dihabiskan bersama mantengin indosiar. Bahkan, kita punya prinsip yang sama.

"Mer, pokoknya kamu jangan nikah dulu sebelum aku lulus kuliah. Kamu kerja yang tekun, jodoh pasti dateng. Pokoknya kita nikah ya...diumur 24/25-an lah." I told her so.


"Iya, Lid. Aku juga gak mau nikah muda. Serius kerja dulu. Masa iya kamu masih kuliah aku udah gendong bayi?"

Kata-kata itu masih terngiang waktu liburan kemarin aku ketemu Merya dengan penampilan yang sudah berubah. She looks more beautiful and gorgeous. "Jiasik kok tambah cetar koen meng." Celetuk saya. Dia cuma jawab dengan ketawa cantik.
"Udah punya pacar nih? Giiiilz, kalo bukan karena pacar mana mungkin perawatan sampe cetar gitu. Ya 'kan? Ngakuuu"
"Haha, iya, Lid."
"Curhaaat dooong meeeeeng!!!"Dia curhat banyak. Dia bilang, pacarnya yang satu ini beda sama yang lain. Dia baik dan sopan. Bahkan, si pacarnya ini janji. Kalau dia lulus kuliah nanti, dia bakal ngelamar Merya jadi istrinya. Mungkin sekitar satu atau beberapa bulan lagi si pacarnya lulus.
"Trus responmu gimana meng?"
"Gak ngerti, Lid. Bingung." Tapi dia sambil senyum ketawa tipis tipis. Jelas banget dia mau tapi malu.
"Yah, meng . Kamu kok nikah duluan? Aku gimana?"
"Ya gimana ya, Lid. Liat aja nanti, haha..."

Haha...ha...ha...hhhmm. Yauda, kalau memang sahabatku ini udah waktunya untuk meresmikan pendamping hidup, why not? Kan cinta gak bisa ditebak kapan datang dan perginya. Cuma gak bisa bayangin sih, partner tempat sampahnya curhatanku yang gak penting ini udah nemu pasangan sejatinya, and for sure she start to being good wife and good mom. And me? Awyeeah....forever alone. Your journey still long long long and loooonger than you tought, unpredictable and surprisingly. *berusaha memotivasi diri sendiri*


Cuma bisa doain buat sahabat kecilku yang satu ini. "Yauda, Mer. Ambil keputusan terbaik kamu. Kalau kamu mau nikah, mantepin dulu jadi istri dan siap siap gendong bayi. Pokoknya, biarpun hari nikahmu pas aku ujian, aku rela ijin pulang. Tapi awas aja kalo kamu pilih tanggal yang gak pas." Dia cuma ketawa dan mulai nyerocos gak bisa bayangin gimana jadi nikah muda dan punya anak. Di saat sahabat mulai merencanakan perjalan masa depan dengan pendamping hidupnya, there's no happiness except hear your friend's dream. Dear my beloved menglong, if you mean to be young married wife, so pass it. I know you deserve more than you thought. 

2009


2014

You May Also Like

0 comments