Review Film Secret Life of Walter Mitty

by - February 20, 2015

Ini film genre slice of life, tapi kalo menurut si wiki romantic adventure comedy-drama film. Dulu film ini pernah di buat tahun 1947 tapi entah dengan cerita dan versi yang sama atau tidak. Film garapan  yang disutradari, diproduseri, dan dibintangi oleh Ben Stiller, si bapak kece yang juga sukses di Night At Museum tampil maksimal memerankan dirinya sebagai Walter Mitty. Alasan saya ingin mereview film ini karena disini saya ingin mengambil hikmah dari film yang menginspirasi dan mengajari tentang tujuan hidup.


Walter Mitty adalah pria 42 tahun yang bekerja sebagai manajer foto negatif di majalah LIFE selama 16 tahun dan jatuh cinta pada Cheryl M yang baru bergabung dengan di perusahaan. Walter suka mengkhayal, kadang bisa jadi mayat hidup sekian detik pas lagi mengkhayal gak jelas. Pas di ultahnya yang ke-42, dia dapet hadiah boneka karet dari adiknya dan dompet berisi kalimat motivasi tentang tujuan hidup dari Sean O'connel. Kayak gini tulisannya.

To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer , to find each other and to feel. That is THE PURPOSE OF LIFE.


Semenjak kehadiran manajer transisi yang baru, keadaan perusahaan  berubah. Karyawan dua lantai di pecat semua, termasuk Walter yang sayangnya tidak bisa menemukan potongan slide no 25 yang harus dijadikan sampul cover majalah LIFE.

Untuk menjaga posisinya demi foto no 25, dia berpetualang ke Greenland sampai ke Skotlandia demi mencari Sean O'connel, seorang fotografer pemilik slide foto no 25. Petualangan lucu dan extraprdinary jadi menu khusus di film ini. Sampai akhirnya Walter berhasil mendaki puncak gunung himalaya dan bertemu dengan Sean. And you know, ini dialognya.

"Dimana foto no 25 itu?" Tanya Walter.
"Kau duduki."
"Maksudmu?"
"Ada di dalam hadiah yang aku berikan padamu."
"Dompet?"
"Ya, apa yang terjadi dengan dompet itu?"
"Aku membuangnya." (Gara gara dia kesel gak biaa ketemu Sean sepulang sari Skotlandia dan buang dompet itu ke tong sampah dapurnya).

Pelajaran dari momen itu, well, hal yang kita anggap sulit untuk dicapai dan didapatkan ternyata tidak sejauh mata memandang samudra yang luas atau tebing yang tinggi, tapi sebenarnya that thing dekat ada di ujung jempol atau di ujung rambutmu.
Di scene puncak Himalaya, Sean sedang duduk sabar menunggi macan tutul salju muncul yang dia sebut "the ghost cat". Saat hewan itu muncul, Walter melihatnya dan bertanya pada Sean. "Kapan kau akan memotretnya?" 
Si Sean jawab, "Hal yang cantik tidak butuh perhatian. Aku tidak memotretnya, aku hanya ingin menyimpan momen ini untuk diriku sendiri."
Well, you know the key? Artinya, hal yang cantik (the ghost cat) gak butuh usaha mencari perhatian supaya difoto fotografer handal, which means kalo kamu ngerasa cantik or gorgeous gak perlu caper atau tebar pesona untuk dapet perhatian. Just let them find out who you are, naturally.

Dan hasil slide no 25 yang dijadikan cover, foto itu bergambar Walter sedang meneliti slide foto negatif dan tagline di majalah edisi itu adalah "Dedikasi atas apa yang sudah Anda lakukan" which mean dedikasi seorang Walter atas kontribusinya untuk majalah LIFE yang hampir 20 tahun lamanya. Hmmm, entah kalian paham atau tidak dengan review saya atau film yang dimaksud. Film ini sama seperti Life of Pi atau The Book Thief yang mengangkat dari kisah slice of life seseorang dan motivasi yang mengagumkan. Apa yang aku dapet dari film ini, hard work never betray. Kerja keras tidak pernah berkhianat. Semua pengorbanan dan kerja keras pasti ada hasilnya, meskipun apa bentuknya dan kapan datangnya tidak pernah dapat diprediksi maupun ditebak.

You May Also Like

0 comments