Mencari Jati Diri Dengan Berorganisasi

by - October 10, 2014


Sumber: gradeslam.org
Halo pejuang jarak dan peraih mimpi. Bagaimana kabar kalian, masalah-masalah yang menghentikan detak jantungmu sejenak sudah selesai kah? Atau justru bertambah dan melimpah?


Sama. Saya sedang terjebak kesibukan yang entah itu bermanfaat atau tidak, untuk mengakalinya saya selalu berpikir positif. Selain itu juga selektif, saya harus tahu mana yang harus diprioritaskan dan mana yang harus disingkirkan. Awal jadi mahasiswa, saya sudah dicekoki pepatah, "Kuliah cuma masuk kelas dan pulang itu belum cukup, kamu harus berorganisasi."

Dengan pepatah seperti itu, berangkatlah saya mencoba masuk ke beberapa organisasi. Mulai dari organisasi mahasiswa ektrsa yang disingkat omek sampai organisasi internasional. Dari perjalanan singkat loncat-loncat organisasi itu, kemudian saya menelaah dan berkesimpulan bahwa tidak semua organisasi membantu diri kita untuk berkembang. Ekspektasi seseorang untuk masuk organisasi rata-rata sama, namun memang tidak semua organisasi atau komunitas memberikan realitas yang sesuai dengan ekspektasi. Hal yang paling menarik untuk tetap bergabung dengan organisasi adalah orangnya. Saya rasa mahasiswa itu sudah dewasa, sudah bisa memilah mana baik mana buruk, dan juga sudah pintar bagaimana cara untuk menghindar kepada hal-hal berbau negatif.

Akhirnya dari beberapa organisasi yang pernah saya pijaki, hanya dua saja yang saya pertahankan. Karena saya menilai bahwa berkumpul di cafe lalu mendiskusikan suatu topik yang tidak ada sangkut pautnya di kuliah apalagi masa depan, menurut saya, itu sama sekali tidak bermanfaat. Untuk itu ada poin penting yang harus didapat ketika masuk organisasi, antara lain; teman nambah banyak, ikut serta kepanitian di berbagai event, dan implementasi program kerja yang melibatkan masyarakat. Itu hal sederhana saja yang dapat dipetik dari organisasi. Karena tidak bisa dipungkiri, memang perusahaan-perusahaan kini membutuhkan bibit-bibit yang memiliki pengalaman minimal di bidang organisasi.


Saya sangat beruntung tidak terlibat organisasi yang mampu membunuh perpektif dan komitmen yang sudah saya bungkus rapi dari rumah. Justru saya bersyukur dengan organisasi yang saya dalami ini membantu saya mengimprove kemampuan berbicara dan bersosiali saya, selain itu juga  mendevelope diri saya menjadi sosok yang lebih baik dari pengalaman buruk sebelumnya.


Kenapa nyasarnya malah ngomongin organisasi ya, padahal rencananya ini tadi mau ngucapin halo aja, karena saya sendiri jarang posting konten baru. Ya itu tadi, alasannya klasik kok, karena tugas kuliah yang numpuk udah kayak kotorannya dinosaurus dan jadwal-jadwal rapat dari organisasi yang kadang bikin lesu dan males. Harusnya sifat buruk itu dihindari, karena dimanapun kita bergabung di organisasai pasti kita sudah diminta komitmen. Kalau memang kamu tidak konsisten dengan komitmenmu di organisasi, bagaimana kamu bisa menjaga komitmen di perusahaan dimana kamu bekerja nanti?


You May Also Like

0 comments