Me: I am a Dreamer

by - August 15, 2014


Sumber: cdn.theatlantic.com

Manusia memang tidak pernah puas atas pilihan yang sudah mereka ambil dan hilang semangat ketika cobaan berturut-turut datang. Saya ingin bosan itu adalah penyakit, jadi saya bisa konsumsi obatnya.



Ketika saya belum mengerti apa itu dewasa, ketika itu saya sangat tidak peduli dan mencetuskan apa yang di kepala tanpa pikir panjang. Alhasil, seperti inilah sekarang. Bukannya menyesali, saya hanya sedikit bimbang dan ragu dengan jurusan yang saya ambil. Ketika SMA, saya tidak mengalami kegalauan yang luar biasa dialami oleh teman-teman lain. Yang pengen ini, pengen itu. Saya mulai dari kelas dua sampai pengisian formulir SNMPTN, pilihannya sama: Ilmu Komunikasi. Emang udah nawaitu dari awal dan gak plinplan.

Alasan saya memilih jurusan itu, karena saya rasa cocok dengan passion saya. Saya suka menulis, berbicara di depan umum, dan aktivitas komunikasi lainnya. Saya memilih berdasarkan apa yang saya suka dan sesuaikan dengan kemampuan saya.

Tapi sekarang, sebelum negara api menyerang, tiba-tiba berubah pikiran. Rasanya saya ingin pindah, tapi pertimbangan dengan apa yang sudah dikorbankan selama satu tahun lalu dengan keinginan mungil saya ini, satu banding satu juta.


Pertanyaannya adalah kenapa. Kenapa daridulu tidak pikir panjang? Kenapa dari dulu saya tidak cepat-cepat dewasa? Kenapa dewasa itu datangnya terlambat? Kenapa waktu tidak bisa diajak kompromi, berputar lambat atau berhenti sejenak atau kembalikan waktu remaja saya yang sia-sia?


Saya dilahirkan dengan keadaan tidak bisa menuntut keinginan semau saya. Sekali pilih strawberry, tidak bisa minta coklat. Saya terlambat, saya benar-benar terlambat untuk mencerna informasi dunia luar yang ternyata menawarkan banyak kesempatan emas. Begitu banyak beasiswa luar negri, saya pun juga sudah paham untuk mengurusnya, tapi yang saya takutkan banyak. Mulai dari modal, setidaknya tersedia modal 40 juta meskipun dapat beasiswa, untuk penerbangan dan lain-lain. Saya berniat sekolah ke luar negri, tapi baiklah jika itu bukan jalannya. Oke, tutup dulu impian sekolah luar negri. 




Sekarang, saya ingin pindah dari bidang jurusan akademik ke jurusan non akademik. Saya bosan dengan aktivitas perkuliahan, saya ingin terjun ke akademisi wanita. Seperti apa ya, semacam pramugrasi, perhotelan, pariwisata atau teman-temannya lah. Tapi sekali lagi, jalan saya memang bukan disitu dan saya rasa saya harus lebih dan lebih lagi, mengatasi perasaan labil yang seharusnya sudah tidak saya miliki.

You May Also Like

0 comments