Dilema Saat Tarawih

by - July 08, 2014

Sejak puasa pertama, puasa dan tarawih di jalanin di tanah rantau. Karena kosanku deket perumahan, jadi agak sulit menjangkau masjid. Meski begitu, ada masjid yang lumayan dekat, setidaknya harus berjalan 100m untuk sampai kesana.


Ternyata, masjid itu cara tarawihnya berbeda dengan cara di rumah. Tidak ada doa setelah solat Isya', tidak menggunakan Bismillah, dan ada ceramah sebelum tarawih. Yups, pakai cara Muhammadiyah. This is my first time lah ya ikut cara Muhammadiyah untuk tarawih. Aku sih, pakai cara apapun gak masalah, entah itu NU atau Muhammadiya, who cares? Yang penting doa dan niat kita ditujukan kepada satu Tuhan, Allah Swt.
Karena seminggu udah tarawih di masjid itu, jadi pengen tarawih di tempat lain, di musholanya kompleks warga. Jaraknya lebih dekat dari kosan. Tempatnya beda, suasananya juga beda. First, aku seneng tarawih disana karena cara tarawihnya sama seperti di rumah, dengan NU. Tapi, selain mengingatkan rumah....namanya juga mushola ya, jadi tempatnya kecil dan yang solat orangnya banyak. Dan, you know what? Yang bikin sepanjang solat gak konsen itu...anak-anak kecil.
Mereka gak bisa diem dan ngomooong terus. Wajar ya, karena pasti, pasti di semua masjid/mushola anak kecil itu jadi masalahnya. Tapi, di mushola ini, serame apapun anaknya gak ditegur -____- Mau negur gimana ya, aku kan orang baru.

Ada yang bertengkar lah, sabet-sabetan pakai sarung, ngomongin udah punya berapa baju lebaran lah, dan kalau udah berantem nangis. Gimana mau konsen coba ToT
Misalnya aja, saat baca al-Fatihah dalam hati. Ahamdulillahirabbilalamin arrahman---Eh, aku buko karo kolak muanis enak sumpah---Arrahmanir---Aku buko karo pisang ijo enak an iku thek---Arrahmanirrahim Malikiya---Wes entuk klambi riyoyo piro?---Malikiyaumid---Aku gurung tuku, bapakku gurung gajian.
God, help me, please... Dua puluh tiga rakaat harus kulalui mendengar suara lain selain suara imam...

Sejak itu, saya putuskan untuk tidak ke mushola itu lagi. Meski saya lebih suka cara NU, tapi jujur saja saya lebih suka suasana tenang agar bisa berkonsentrasi kepada-Nya. Jadi, saya memilih masjid yang berjarak 100m itu daripada mushola yang banyak anak kecilnya. Udah gitu aja sih. Gak penting 'kan? Udah, gak apa-apa, mending baca sampah blogger daripada nonton situs 26 di bulan Ramadhan ini. Am I right?

You May Also Like

0 comments