Review Film The Book Thief

by - April 04, 2014

 


Dapet film ini dari temen dan iseng jam 00.00 niat begadang buat nonton ini. Meskipun harus berakhir dengan pupil membengkak dan dapat tertidur pukul 02.20 WIB saya harus mengakui kalau film ini luar biasa bagus.

Pada tahun 1938 di Jerman, Liesel Meminger dan adiknya diantarkan oleh ibunya untuk diadopsi oleh pasangan Hubermann. Namun sayang, adiknya meninggal dalam perjalanan. Liesel menjalani hidup barunya di keluarga Hubermann dan mendapatkan teman Rudy yang setia menemaninya kemanapun ia pergi. Di sekolah, Liesel dijuluki bodoh oleh teman-temannya karena tidak dapat membaca. Maka dari itu, Hans Hubermann--yang sekarang dipanggil Papa olehnya, mengajarinya sampai ia dapat membaca dengan lancar.
Liesel menyadari alasan ibunya meninggalkannya, karena ibunya salah satu komunis yang diburu oleh penganut nazi di tempatnya. Di tempatnya sekarang, Liesel menjadi bagian dari Nazi yang berniat memusnahkan para Yahudi dan komunis.

Namun pada suatu hari, seorang remaja laki-laki bernama Max datang ke rumah Hubermann dengan kondisi sakit. Ia melarikan diri dari kejaran tentara Nazi karena ia seorang yahudi. Hans menolongnya karena ia berhutang budi pada ayah Max. Frau Hubermann--mama Liesel, merawatnya meski ia terus mengeluh kenapa ia suaminya mau menerima orang yang dapat membahayakan keluarganya.
Liesel berhubungan baik dengan Max, meski Max harus tinggal di lantai bawah dan tidak pernah merasakan sinar matahari hampir selama tiga tahun. Liesel-lah yang membantu Max membagi informasi dunia luar, termasuk memberikan laporan cuaca setiap hari.

Liesel membacakan buku untuk Max di ruang bawah tanah
Saat parade pembakaran buku, dengan keberanian yang ia miliki Liesel mencuri buku yang masih panas sangking penasarannya apa isi buku yang mereka bakar. Liesel bertemu dengan istri walikota dan wanita itu sempat melihat Liesel mengambil buku di parade itu, dan mengijinkan Liesel membaca di ruang baca tempat anaknya dulu yang sudah tiada. Namun tidak berlangsung lama karena suaminya tahu dan memutuskan agar Liesel tidak boleh datang padanya lagi. Max harus meninggalkan keluarga Hubermann karena situasi yang memaksanya, jika tidak keluarga yang ia tinggali akan terancam bahaya. Di kelanjutan cerita, Liesel sadar bahwa mamanya, meski ia menganggap mama cerewet dan bagaikan badai petir yang terus bergemuruh, dibalik semua itu mama sayang dan peduli padanya.

Saat Jerman kalah dalam pengeboman masal, semua keluarga Liesel meninggal termasuk Rudy yang pernah memintanya untuk menciumnya namun terlambat, teman kecilnya itu sudah tidak bernyawa. Liesel menjalani hidup lagi bersama keluarga walikota dan membantu keluarga Steiner, ayah Rudy yang memiliki toko jahit. Akhir cerita, Liesel didatangi pengunjung yang pernah tinggal bersama dirinya. Max datang menjemputnya.
Slice of life yang memilukan, menurut saya. Karena sisi kehidupan pada zaman nazi, otoriter, dan sebagainya, serta kehilangan orang yang disayang membuat film ini tampak luar biasa di mata saya. Terimakasih sudah mau menyimak reviewnya, selamat menonton kembali :))

Liesel mengambil salah satu buku pada parade pembakaran buku

You May Also Like

2 comments

  1. Alur cerita Dan kisahnya bagus Dan seru .Banyak hal yg berhrga Dan penting untuk diketahui do film INI.Terutama inspirasi yg menggugah hati yg kita dapat.Hingga penasaran bergelora di ending ceritanya .thx bwt yg uda non ton film ini

    ReplyDelete
  2. baru nonton... mungkin dari film ini dapet gambaran gimana sih kondisi penduduk sipil saat terjadinya perang dunia, dan film ini menceritakan tentang pemerintahan nazi dan aku tak tahu dan selalu kurang tertarik dengan informasi tentang perang.. tapi dari film ini aku jadi mau tau kenapa perang dunia terjadi apa alasannya dll...

    ReplyDelete