Hidup Dalam Bulu Kelinci #DuniaSophie

by - April 04, 2014



Siapa kamu? Kenapa kamu hidup? Kenapa kamu ada disini? Darimana asalmu?

Pertanyaan seperti itu cukup membingungkan sampai membuat kita mengabaikannya karena menganggap tidak penting. Ngapain sih nanya gitu? Penting amat. Itu yang ada dalam pikiran kita.

Saya membaca novel filsafat pengarang Jostein Gardeen, judulnya Dunia Sophie. Aku masih dapet halaman 108. Tapi tangan ini udah gatel pengen bagi pemikiran kritis yang dituangkan penulis berkaitan dengan pendapat-pendapat para filsuf.

Kenapa rasa ingin tahu hanya dimiliki oleh anak kecil saja? Dan rasa ingin tahu akan luntur seiring waktu ketika manusia beranjak dewasa. Penyebabnya adalah kita, yang sudah bisa berpikir menggunakan akal, menganggap dunia memang sudah semestinya begitu. Kita tidak banyak bertanya seperti anak kecil lagi, kita sudah merasa cukup tahu dan untuk apa mencoba ingin tahu toh memang semestinya begitu. Berbeda dengan pemikiran para filsuf, yang masih belum puas dengan istilah "dunia memang semestinya begitu".

Kita menjadi apatis pada hal-hal dunia dan isinya karena indra yang kita miliki sudah terbiasa dengan mereka. Melihat kereta melintas di relnya, matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat, venus adalah jelmaan bintang kejora, dan sebagainya. Kita sudah tidak banyak bertanya, cukup menerima dari isi pelajaran di sekolah maupun ensiklopedia tapi tidak pernah berpikir dari mana asal semesta ini. Jika yang menciptakan kita adalah Tuhan, maka tentu Tuhan berasal dari "sesuatu". Pasti ada sesuatu dibalik "ketiadaan". Sedangkan anak kecil, dia akan terus bertanya kenapa awan berwarna biru dan terkadang berubah warna abu-abu, karena dia belum terbiasa dengan keadaan di sekitarnya.

Di novel Dunia Sophie, penulis mengibaratkan kita ini hidup dalam tubuh bulu kelinci. Orang-orang yang sudah dewasa akan tidur nyaman di dalam bulu-bulu kelinci, sedangkan anak kecil dan para filsuf mencoba memanjat bulu kelinci untuk melihat siapa pencipta mereka dan ada apa di luar sana.
Hanya saja anak kecil tidak cukup tinggi memajat dan filsuf hanya mendapatkan asumsi yang berbeda-beda dari satu teori ke teori lain.

Buku yang saya baca mengubah pikiran kita untuk kritis, tidak menuntut kita menjadi filsuf melainkan berpikir secara filosofis. Banyak yang saya pelajari dari buku ini (padahal masih 15% yang dibaca) tapi sudah membuat otak saya ikutan berpikir kritis seperti Sophie. Dengan tanggapan dalam hati seperti, "Oh, jadi gitu..." Oh, iya ya, bener juga ya..." dan "Kok kita gak sadar sih kalau ternyata begini?"

Udah gitu aja, selanjutnya masih bersambung karena belum tuntas juga 'kan aku bacanya. Selamat menyimak lagi :))

You May Also Like

0 comments