5 Scene Mainstrean Film Horor Indonesia

by - April 27, 2014


Sumber: cdn.playbuzz.com

Dalam waktu yang terus berjalan, sejarah film horor Indonesia kisahnya mungkin bisa dianalogikan dengana artis kesayangan Disney, Miley Cyrus, yang dulunya teramat sangat lugu dan lucu di Hannah Montana yang sekarang you-know-it-well lah dia jadi apa sekarang.


Sama seperti film horor di Indonesia, dulunya dikenal film yang benar-benar 'horor'. Sekarang, konotasi horor udah berubah jadi porno. Misalnya aja, kamu nanya ke temenmu, "Hei, gimana filmnya? Bagus gak?"
Temenmu jawab, "Terlalu horor." Well, ada ambiguitas disana, dua makna yang terkandung. Horor menyeramkan atau horor menggairahkan? Ada beberapa scene mainstream di film horor Indonesia yang, menurut saya "pribadi", menjadi alasan ratingnya rendah dibanding genre film yang lain.

1. Terdapat unsur seksualitas

Unsur seksualitasnya banyak sekali jenisnya. Misalnya aja, alasan kenapa hantu itu gentayangan karena masa lalunya dia diperkosa dan dibunuh. Gak sedikit film horor yang mengangkat kasus "perkosan dan pembunuhan" di ceritanya. Kalau bukan hantunya, ya, pemeran manusianya yang "nakal". Seharusnya ada inovasi baru, dimana film hantu bisa dikonsumi orang awam bahkan anak-anak, bukan hanya orang-orang yang hobi menonton "semi". Inovasi baru, em, misalnya aja, banyak hantu anak kecil yang gentayangan karena dulu ada pembantaian panti asuhan lalu tempat itu menjadi bangunan baru, dan disitulah kisah seru dimasukkan. Better than only got naked and killed 'kan? Karena orientasi film horor sebenarnya untuk menyadarkan penonton untuk lebih memperkuat ibadahnya agar dijauhi dari roh-roh jahat, bukan untuk pelipur mata keranjang.


2. Hantunya Perempuan

Gak tau ya, emansipansi yang dibawa ibu pertiwi kita R.A. Kartini bisa sampai di film horornya Indonesia. Karena sejauh mata mengamati, dominan hantu yang ditayangkan adalah hantu perempuan. Maybe you call it by Kuntilanak. Ya, memang bisa dilogika juga sih, kalau perempuan yang bukan hantu aja bisa menyeramkan apalagi hantunya? Suaranya yang melengking, rambutnya yang terurai panjang, jubahnya yang menyapu lantai, dan tatapan matanya yang membunuh. Coba ada inovasi baru, misalnya aja hantunya itu laki-laki, dengan ambisi untuk mengumpulkan pengikut, tidak peduli itu darah perjaka atau perawan, bisa jadi pasukannya untuk membentuk suatu agama untuk melawan "kebenaran alam semesta". I think that would be cool.

3. Sound effect Berlebihan

Kadang sound effect DENGDONG-nya lebih  mengagetkan daripada kepala hantunya yang muncul. Itu bikin kecewa ekspektasi penonton, karena yang dicari kengerian scene horornya, bukan efek soundnya. Coba ditekankan adegan saat dimana hantu tepatnya muncul, selain di depan cermin, dibalik tembok, atau dibawah kolong kamar. Karena apa?
Itu sudah mainstream.



4. Judul Film Konyol

-Pocong Pasti Berlalu. Yah, ternyata bukan kisah mantan aja yang berlalu.
-Kesurupan Setan. Em, kesurupan artis bisa gak ya?
Don't get me wrong, aku sama sekali gak bermaksud nge-judge judul film yang diproduksi perfilman di Indonesia. Toh mereka menciptakan judul-judul "cemerlang" itu bertujuan untuk memikat penonton, atau memang orientasinya berisi hantu komedi.
Kalau saja judul-judul filmnya lebih menarik dan persuasif dalam hal menggoda untuk ditonton karena unsur kata yang dibuat benar-benar menyeramkan. Ex: "Pemanggilan"--Itu udah bikin sejuta rasa penasaran, pemanggilan apa? Tentang apa? Dst.

5. Scene Yang Membodohi Masyarakat

Seperti yang saya katakan di atas, tujuan film horor seharusnya menghinbau masyarakat agar teguh pada ibadahnya agar terhindar dari hal-hal buruk dunia fana. Tapi ada film horor yang menayangkan ada hantu yang ikut solat di belakang kita. Well, nonton film ini, jujur aja, bikin enggan solat karena kebayang gimana nanti kalo di belakang ada hantu bermata merah yang siap menerkam?
Film itu, bagaimanapun, meski horor, selain menghibur seharusnya memberi hikmah yang berarti. Dan herannya, entah apa penyebabnya, film horor selalu berakhir menggantung. Parahnya, bahkan ada di film dimana setan menang manusia fana kalah.

However, this is our country. Kapitalisme yang semakin rumit tak terkendali, politik badut dan semacamnya, pemberontakan dan konspirasi, sensasi yang diciptakan artis haus populer, dan kasus kekejaman seksualitas yang merajalela, menuntut kaum entertainment dalam segala bidang menciptakan karya demi menyampingkan konflik rumit yang menggeorgoti jantung Indonesia (kaidah Pancasila). Jadi, menurut mereka, mari berkarya--hibur masyarakat--dan bagaimana pun caranya. Dan inilah yang kita dapat.

You May Also Like

0 comments