Talkin' with Grandma's Friend (part I)

by - February 02, 2014

Waktu liburan kemarin, aku sempetin main ke rumah nenek di persil. Sampai disana, dengan disuguhi buah-buah mulai yang manis sampai yang kecut, maka akan rugi kalo gak mengukir cita untuk rujakan. Kebetulan aku ditugasi nganterin nenek beli gula merah untuk bahan utama rujakan. Belinya di warung punya temennya nenek, namanya nenek Paeni.Masih ada ikatan keluarga sih, tapi ikatannya terlalu panjang kalau dijabarin. Jadi mending di skip aja ya, karena bukan itu poinnya.


Beli gulanya cuma semenit, tapi namanya juga orang yang udah beruban, kalau udah diajak duduk, pantatnya pasti udah menyatu gitu sama kursinya. You know what i mean 'kan? Kalau gak paham, ih...kamu lemot banget deh.
Berhubungan nenek ikutan duduk, bakal jadi cucu terkutuk kalau gak ikutan duduk disebelahnya. Sebagai cucu yang baik dan cantik, gak ada yang bisa dilakuin selain tumakninah dengerin dua orang tua yang berceloteh dengan topik yang selalu berganti-ganti tapi sambung-menyambung. Meski mereka menggunakan bahasa Madura, tapi aku ngerti maksudnya, dikit-dikit.
Dari sini aku bisa lihat perbedaan orang bergosip sesuai dengan usianya. Gini, coba perhatikan anak-anak usia remaja pasti gak jauh dengan masalah roman picisan serta drama melankolis yang menyangkutkan dirinya pada cerita cinta ftv-an. Kalau ibu-ibu, gosipin perilaku tetangga yang yang bikin heboh dan nge-judge sesuka mulut mereka. Sedangkan nenek-nenek, mereka menggosipkan nasib anak dan cucu mereka yang sedang tersandung masalah, bukannya mengejek alih-alih bersimpati dan merasa kasihan.

Topik yang mereka bahas gak lain gak bukan tentang pernikahan salah satu cucuk Nenek Paeni yang memprihatinkan. Ringkas cerita, di desa nenekku ini gak sedikit yang menikah muda, dan gak sedikit pula yang menikah karena kecelakaan. Dan kebanyakan dari mereka yang sudah melahirkan, anaknya dititipkan pada orang tua atau siapapun yang mampu merawat anaknya, sedangkan mereka mencari sesuap nasi ke negara tetangga. Dan itu gak cuma hitungan jari, tapi puluhan keluarga punya cerita dan kisah yang sama. Ironis sekali, bukan?

You May Also Like

0 comments