Kutipan Novel Abarat; Ada Pesan Untuk Penulis Pemula

by - February 12, 2014


Bisa jodoh sama novel Abarat sejak SMA. Waktu itu di perpus ada novel Abarat yang udah kucel dan bau buku tua. Eh tapi pas dibaca-baca... Novel yang ditulis sejak aku lahir ini, tahun 1995, ternyata bikin aku jatuh cinta.

Novel Abarat adalah novel dongeng hasil karya pikiran dari penulis termasyhur, Clive Barker. Abarat sendiri menceritakan tentang kisah Candy yang tinggal di Chickentown yang kemudian atas kemauan dan keadaan yang tak terduga ia sampai ke pulau-pulau yang dinamakan Abarat. Disana dia bertemu dengan makhluk aneh dan sesuai dengan temanya, absolutly nightmare.

Selain itu, Clive membantu vision pembacanya dengan memberi gambar yang diambil dari lukisannya sendiri pada novel Abarat. Bukan cuma asal nulis, tapi juga jago ngelukis imajinasinya sendiri. Awesome people! Dan, Cliver Barker termasuk penulis favoritku setelah Christoper Paolini.

Dalam buku seri pertama, Abarat-Absolutly Nightmare, pada halaman 212 ada tulisan tentang raja dari pulau kegelapan yang terlantar karena masa lalunya. Seperti ini:
Kalau kita tidak hati-hati, cinta bisa membuat patah hati. Membuat kita merasa begitu kalut, begitu bingung, dan begitu tak berarti, hingga hidup ini jadi serasa tak ada gunanya lagi dijalani. Hal-hal ini diketahuinya bukan dari buku-buku, melainkan dari pengalaman-pengalaman pahit dalam hidupnya.
Selain itu, di lembar terakhir Clive memberi motivasi untuk calon penulis. Kata-katanya sederhana, tapi begitu melekat dan menyentuh. Seperti ini:

Sebagai pemula, tidak penting kamu penulis yang bagus atau bukan. Yang penting, kamu menulis. Kalau bangun pagi, katakan begini, "Menulis adalah pekerjaanku. Aku tidak akan melakukannya cuma kalau sedang mood. Aku akan menulis sebaik mungkin, dan berusaha keras membuahkan hasil". Jangan cuma duduk-duduk menunggu inspirasi, bisa-bisa kamu mesti menunggu lama. Mungkin sesekali ada juga inspirasi yang datang, tapi kebanyakan kamu cuma menunggu, tidak berbuat apa-apa. Pokoknya menulislah, tuangkan apa saja yang ada dalam benakmu, jangan terlalu memusingkan apakah tanda bacanya benar, atau ejaannya tepat, atau susunan katanya sudah benar. Yang penting tulis terus..." 

Confessions: Lost Souls, Issue 2, [2 September] 1995.


You May Also Like

0 comments