Suara dari Rumah

by - December 03, 2013

Usai solat subuh dan tidak tidur lagi itu bukan usaha yang mudah. Aku mengatakannya karena hari ini aku melewatinya. Suara Taylor Swift berdering dari ponsel, membangunkan tidurku yang tanpa mimpi. Ternyata mama yang telefon.


"Halo, Assalamualaikum...." sapaku dari telfon.
"Lagi apa lid? Sudah bangun? Sudah solat subuh?"
Rentetan pertanyaan dilontarkan tanpa koma dan titik. Aku terpaksa menjawabnya satu-persatu. Alhamdulillah, kabar mama dan adik-adikku baik-baik saja disana. Hanya saja, mama bilang kalau Farel semalam demam dan rewel. Uuu ciaaan, rasanya pengen elus-elus botaknya Farel sama nyium pipinya yang menggelembung penuh lemak itu.

Aku pasang telingaku baik-baik mendengar kabar dari rumah. Ada cerita lucu dari Nova, hari dia gak masuk sekolah.
"Kenapa Nova gak sekolah?"
"Dia mama hukum."
"Dihukum karena apa?"
"Dia dua hari udah bolos les. Kemarin juga dia berantem sama temennya. Makin hari makin nakal anak itu..." cerita mama sambil menggeram dibalik suaranya. Aku cuma terkikik. Astaga, Novaku...
Mama juga bilang kalau kosakata Farel bertambah, udah bisa disuruh-suruh, ambil gendongan, dan dia sekarang suka ngambekan. Udah ngerti. Selain nyeritain anak-anaknya, mama juga bilang di rumah lagi musim hujan, jadi disana kerjaannya cuma makan tidur dan makan lagi.

"Halo, Nova." sapaku saat telfon diberikan padanya.
"Halo, Mbak Lidya..."
"Kamu katanya tambah nakal ya?"
"Nggak kok..."
"Kamu ngapain bertengkar sama temennya?"
"Soalnya dia nendang kakiku duluan, yaudah aku tonjok aja dia."
Baiklah, itu wajar untuk anak seusianya.
"Trus kenapa kamu bolos les?"
"Soalnya aku bawa bekal kentang goreng."
Well, menurutku, itu jawaban yang tepat untuk anak umur tahun seperti dia.



Aku juga diintrogasi, bagaimana keadaanku disini, apakan baik-baik saja atau bagaimana. Aku menjelaskan bahwa keadaanku disini tidak seburuk yang dibayangkan, sehat dan masih normal. Tapi ketika ditanyai kenapa pengeluaran banyak sekali, aku jawab karena banyak keperluan yang masih harus dibeli. Karena ini musim hujan, terpaksa beli jas hujan dan sepatu karet. Dan banyak dikeluarkan untuk tugas, sedikit tapi dalam periode kontinyu jadi perhitungannya banyak. Tapi ya sudah lah, apapun kondisinya tetap bersyukur. Karena masih banyak juga yang tidak seberuntung kondisiku yang kubilang ini sederhana tapi bagi mereka itu sempurna.

You May Also Like

0 comments