Analogi Sepatu Kuda dan Cambuk

by - October 25, 2013


Suatu saat, kamu akan merindukan momen dimana kamu berada diposisi dilema. Berada diantara pilihan-pilihan yang mengantarmu ke alam kebimbangan. Dan mengajarimu bagaimana mengambil keputusan demi sebuah alasan. Menikmati setiap tarikan nafas yang membuatmu sesak, disisi lain ada angan-angan di masa depan yang membuat tersenyum setiap kali membayangkannya.

Mengambil keputusan itu bukan usaha yang mudah. Resiko dan segala kemungkinan terburuk--yang belum terbayangkan pasti akan datang menyusul. Asal kamu tau konsekuensinya seperti apa, tidak masalah. Asal segala efek buruk atas pilihanmu sebanding dengan kebahagiaan yang menjanjikan, tidak masalah.
Selanjutnya, kamu harus mempertanggungjawabkan pilihan yang udah kamu ambil. Dipojokkan oleh banyak orang, dicap terdakwa karena mengambil hak kebahagian orang lain, disalahkan walaupun berusaha untuk membenarkan fakta, kata-kata manis menjadi pahit dan sebaliknya. Mereka mengecam dan mengutuk, bahwa kebahagiaan diatas penderitaan orang lain tidak akan abadi. Ya, benar. Mereka sangat benar.

Tapi 1, mereka tidak tahu seperti apa dalam kita. Mereka menilai, atas apa yang mereka dengar. Mereka menilai jelek lagu yang mereka dengar dari jauh seberang sana, padahal disini kita mendengar lantunan jazz yang menenangkan. Itulah jarak, itulah ruang, itulah posisi, dimana perspektif semua orang dibandingkan dan dibedakan. Ditambah, manusia adalah makhluk yang cenderung suka berpendapat dan tak mau ditentang.

Tapi 2, mungkin mereka belum pernah berada di posisi kita berdiri. Andai mereka pernah melewati jalan berlumpur, mereka tidak akan mengejek kaki kita yang belepotan. Andai saja, tapi memang berandai-andai adalah hobi kita. Ya 'kan?

Tapi 3, mereka iri pada kita. Mereka terlalu sering mendengar lantunan hidup ini tidak adil. As you know, selama kamu berkeyakinan kamu itu theism, makhluk bertuhan, percayalah, Tuhan Maha Adil. Yang harus kamu lakukan hanya bersyukur atas apa yang ada pada dirimu sekarang. Itu saja.

Yang lalu biarlah berlalu. Kalo kamu pernah jatuh, harusnya kamu bersyukur, dengan pengalaman kamu lebih bisa menghindari batu dan lebih hati-hati. Cacian mereka, kutukan mereka, dan perkataan mereka...jadikan sepatu kuda dan cambuk untuk melatihmu berpacu lebih dan lebih cepat lagi.

You May Also Like

0 comments