Semua Orang Pasti Bisa dan Berhak Bisa

by - September 15, 2013

Untuk melihat luasnya laut, kita harus berada di puncak. Semakin luas kita memandang laut, semakin tinggi juga posisi kita berdiri. 
Semua orang berhak berada di atas, namun tidak semua bisa ada di atas. Bahkan berada dibawah sudah menjadi nasibnya. Apa bisa bergeser ke atas dan ke bawah? Tentu bisa.


Di antara 5 benua ini, mobilisasi didominasi oleh stratifikasi campuran. Jadi, kalo mau naik ke atas bisa, ke bawah juga silahkan. Bagaimana cara ke atas? Ya dengan usaha lah. Gimana caranya? That's ur own bussiness.

Banyak sekali motivator-motivator handal, dahsyat, luar biasa dan super memberikan materi kejiwaan terutama di bidang psikis untuk tujuan yang positif. Hasilnya juga luar biasa bagi peserta-peserta seminar atau pembaca buku-buku motivasi best seller. Namun perlu ditelaah lebih dalam lagi, bahwasanya isi dari semua buku itu hanya mendongkrak kakimu untuk meloncat ke atas. Jika dalam loncatan tinggi itu kamu mampu menggapai pegangan, maka pertahankan dan panjatlah dinding itu. Tapi sebaliknya, jika dalam loncatan itu kamu tidak bisa menggapai apapun, maka kamu akan jatuh lagi dan perlu pendongkrak motivasi yang super dan dahsyat, yang mampu melemparmu ke atas sampai dapat pegangan yang bisa dipegang erat.

Menurutku, di jaman kacau-balau ini, sebuah puncak kesuksesan tidak harus dipandang dan dinilai dari gelar. Kalau itu salah, maka kenapa seorang tukang bubur bisa naik haji? Bagaimana dengan tukang becak yang bisa mencetak buku best seller? Dan bagaimana pula dengan mantan tukang ojek yang sekarang goyangannya dikenal seantero bumi nusantara ini?


Bahkan ada yang pernah bilang, sekarang orang yang bersepatu vantofel dan bersandal japit lebih kaya orang yang bersandal japit. Disisi lain, saya juga tidak beranggapan yang bergelar tidak bisa sukses. Semua bisa berada di puncak. Hanya saja, yang membedakannya adalah bagaimana cara mereka bisa berada di puncak tertinggi.
Orang-orang yang bergelar bisa naik ke atas dengan cara naik lift atau tangga. Sedangkan orang-orang yang tidak bergelar untuk naik ke atas harus naik pohon. Lebih sulit mana naik lift atau naik pohon?

Tidak sedikit anak-anak Indonesia, generasi berlian yang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan seterusnya sampai gelar teratas. Tapi apa itu masalah? Yang jadi masalah, mau gak mereka naik pohon untuk bisa sampai ke atas?

You May Also Like

0 comments