Farewell and New City

by - September 14, 2013

Sumber: themocracy.com

Menghilangan rasa dari efek perpisahan dengan orang yang kita sayang itu tidak mudah. Buktinya masih banyak jones yang berkeliaran di jalanan akibat stuck di hati mantannya, mereka gagal move on. Tapi yang aku rasain sekarang, perpisahan yang baru aku lalui, perpisahan yang paling menyisakan perasaan nelangsa.


Dulu waktu aku pisah ke Jember sih, mama biasa-biasa aja. Karena tau di Jember ada kakak sepupu dan jaraknya sampai ke rumah cuma 2 atau 3 jam. Nah, disini? Genteng-Malang gak deket, perlu waktu sekitar 7 jam untuk sampai. Disini juga gak ada kerabat dekat, disini secara kasat mata aku sendirian. Mandiri udah jadi kewajiban.

Tanggal 30 Agustus 2013, hari dimana aku berangkat ke Malang. Waktu pamitan, serasa belum siap beranjak dari rumah hijau nan tentram ini. Apalagi liat Farel yang masih dalam gendongan mama, nova yang masih mojok meluk guling dikasur, dan mata mama yang berkaca-kaca. I hate this momment, tapi harus aku lalui secepatnya.
"Hati-hati ya, Lid. Disana jangan nakal ya," kata mama pas di pelukan perpisahan, suaranya parau. Aduh, gak tega...
Pas mama berdiri di gerbang, mandangin anaknya yang mulai menjauh, aku gak berani noleh ke belakang takut dramatis dan cuma liat mama dari kaca spion. Tenggorokan jadi sakit nahan momen itu.

Sampai di kosan, Alhamdulillah kosannya gak seburuk yang dibayangkan. Kasurnya 160x200, cukup nyaman untuk berdua. Oh ya, aku ngekos sama Bela, sesama Ayam. Kalo lagi nata-nata barang di kosan, jadi inget Mbak Miah. Dia sekarang ada di Surabaya, ngekos sendirian. The Chickens yang ada di Malang ada 3, aku, bela, dan fasta. 2 di Jogja, deasy dan dita. Sisanya 1, di Surabaya. Di Malang juga banyak temen-temen SMA, temen SMP juga, eh, temen SD juga ada. Walopun beda sekolah, tapi tempat yang sama, pastinya sering nongkrong sama mereka :3 Disini tempat-tempat ngumpul juga banyak dan nyaman. Ng, doain ya, kalo misal aku disini nakal dan suka kluyuran, ingetin. Aku gak mau jadi lebih buruk disini, pengen sebaliknya.

Alhamdulillah, di Malang dikasih kesempatan pakek kendaraan. Walopun agak kasian juga sama mama dirumah, motor satu-satunya aku bawa ke sini. Jadi mama sekarang kemana-mana harus jalan kaki :(
Walopun ada kendaraan, masih belum ngerti seluk beluk kota malang. Macetnya minta ampun -..- Juga belum dapet langganan warung yang enak dan murah. Disini makannya sehari 2x, gak ada yang masakin :(
Ya, jalanin aja. Ini masih baru dua minggu lho, masih terlalu awal untuk menampung keluhan-keluhan manja. Selamat menjadi mahasiswa ya, Lidya, semoga menjadi lebih baik dan mandiri. Amin...

You May Also Like

0 comments