Welcome My 18th

by - July 26, 2013

 25 Juli 2013, 00.00 WIB. Terbangun dengan kejutan orang-orang yang aku sayang datang membawa sepotong tart dengan lilinnya memakai topi kerucut, balon-balon dekorasi ruangan, dan alunan Happy Birthday yang menjadi backsound sebuah momen. Dan mendapati sms Selamat Ulang Tahun serta doanya dari seseorang yang jauh disana.
You know, itu tadi hanya terlintas di angan-angan, imajinasi konyol. Kenyataannya, jam 12 lewat...nothings happen. 


Ada sms datang, diwaktu yang tepat. Tapi sayang sekali, tidak ada yang bisa diharapkan lebih dari itu. I'm stuck, again.
Bersyukur juga ada notifikasi facebook di pojok kanan atas, mereka bisa ingat ini hari yang spesial bagiku (dan tidak bagi mereka). Terhibur dengan sms teman-teman, doa-doanya, dan lelucon ucapan ulang tahun mereka.
Berbeda dengan dua tahun yang lalu, berturut-turut di hari yang sama dapat boneka dari orang yang berbeda. Hari ini? Aku cukup bahagia dengan nafas yang masih berhembus, jantung yang berdetak, dan hati yang belum ternodai. Tidak ada party, tidak ada gaun, dan tidak ada pangeran. Dan tidak perlu apapun, seriously, hal semacam itu hanya simbolis. Yang terpenting, i'm not 17th anymore. Udah tuwir nih, 18th. Ya semoga saja umur dengan sifat dan lain-lain bisa sesuai. Amin.

Sebenernya hari ini ada beberapa kejutan juga, tapi sebagian banyak yang gagal. Di pagi hari keluar dari kamar mandi usai pub, ada mama, nova, dan farel. Mama menghitung sampai kehitungan ketiga, dan... "Happy Birthday Mbak Lidyaaa!!" sorak mereka di pagi hari yang bahkan ayam masih enggan berkokok. Well, aku akui, itu kejuatan paling meriah dan pertama kalinya setelah keluar dari kamar mandi. Yang kedua, mungkin rencananya mama mau kasih surprise kue tart. Yang bikin rencana surprisenya gagal, waktu disuruh beli cup takjilan di toko ---toko pembuat kue tart. Dan setiba disana ditanyain sama penjaga tokonya yang memang sudah saling kenal, "Nanti kue tartnya di ambil jam 5 ya, lid?" awalnya aku agak bingung, tapi akhirnya sadar sesuatu. Pfft, ketahuan. Tapi aku pura-pura tidak tahu sampai orang rumah kasih 'surprise gagalnya' usai pulang tadarus. Bukan cuma itu, waktu mau ambil hape di meja ada amplop yang jatuh. Amplop kondangan yang biasanya ditulisin MISTOK - GENTENG, sekarang tulisannya HAPPY BIRTHDAY LIDYA. Penasaran, dan pengen buka. Tau isinya apa? Uang bernominal 50 ribu. Well, aku gak punya alasan kenapa bude gak bisa bedain mana waktu sunatan dan ultah keponakannya. Tapi sisi positifnya, 50 ribu itu bisa buat tambahan beli baju lebaran. Sebenarnya, apapun yang kalian berikan, materi ataupun kasih sayang, thank you very much. Thats mean a lot.

Menu Buber
Hari ini memang tidak ada pesta. Tapi mama ngadain tasyakuran buka bersama tepat di hari ini. Buka bersama kecil-kecilan, cukup untuk tetangga satu gang. Lebih dikit malah, Alhamdulillah.
Di siang hari, ada percakapan yang terekam di benak waktu rewang di dapur meracik bumbu buat buber nanti magrib. Disana ada bude, mama, dan aku. Bude nyeletuk, "Pacarmu nanti undang aja sekalian. Ini masakannya banyak lho, pasti cukup. Lebih malah,"
Sedikit menarik nafas panjang sebelum menjawab. "Maaf ya, Ma, Bude. 3 tahun berturut-turut tiap lebaran pasti ada yang ngapelin, tapi kayaknya tahun ini enggak. Hehe..." singkat, tapi sedikit menusuk to my self. Bude antusian kalo ada yang ngapelin di hari lebaran, soalnya dulu pernah ada yang datang sambil ngasih oleh-oleh brem.

"Mama bilang juga apa, ulang tahun kok gak punya pacar. Kapok gak dapet kado. Jomblo kok setahun, dulu bukan waktunya pacaran malah giat pacaran." tambah mama, tambah menusuk.
"Kalo gitu undang mantanmu aja lid kalo gak punya pacar," usul bude, ngawur. Bener-bener ngawur.
"Semua mantanku udah ada yang punya..." jawab pasrah.
"Yaudah, gak usah mikirin pacar-pacaran. Nanti siapapun suami pilihanmu, InsyaAllah mama restuin. Fokus ke kuliah dulu, itu bayar uktnya gak sedikit lid." tutur mama sebagai penutup topik.
 

You May Also Like

0 comments