This Long Journey

by - July 10, 2013


Gak ada mawar, gak ada coklat, dan gak ada candle ligh dinner yang diharapkan semua insan wanita, termasuk aku sendiri. Gak ada perayaan yang spesial, hari ini justru perayaan dimana adanya kewajiban untuk mengoreksi diri jika ada yang salah. So, what the hell is going to celebrate?

Bertahun-tahun melewati masa kesendirian itu memang bukan masa yang mudah. Walopun menjalani sendiri, bukan berarti miskin cerita. Justru perjalanan yang bebas dan tak menentu di satu jalan ini penuh warna, manis, bahkan badai sekalipun.

Mulai dari mengharapkan balikan dengan mantan, menyukai adik kelas, berusaha dekat dengan kakak kelas, sampai pernah dekat dengan kekasih orang. Yang terakhir yang paling punya banyak cerita. Karena pada masanya, berhasil membuatku merasa menjadi wanita paling payah dan lemah sepanjang hidup.

Bagaimana bisa, dulu punya temen yang jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Aku justru mencacinya karena merebut kebahagiaan wanita lain adalah suatu hal yang kejam. Sekarang aku bisa merasakan rasanya menjilat ludah sendiri, munafik, dan cercaan yang pernah aku lontarkan menghujam berat di tempatnya berasal. Oke, tapi itu cuma masa lalu. Sudah berakhir. Kapan-kapan aku ceritain kalo aku inget kenangannya, soalnya udah agak lupa-lupa gitu sih.

Selanjutnya, baru-baru ini. Menyukai kakak kelas 2 tahun di atas aku. Dulu pernah satu sekolah, tapi sekarang dia udah ada di suatu tempat rahasia. Alasannya, karena dia begitu menginspirasikan aku akan suatu mimpi bahwa semua orang yang tidak memiliki bakat bisa meraihnya, just like me (gak punya bakat sama sekali). 

Motivasi yang dia tunjukkan kepada umum, segala usaha nyatanya, bahkan sampai cita yang hampir dia raih. All about him, really makes me better. Tapi terus terang, walaupun berteman di media sosial, sekalipun tidak pernah menyapanya. Mungkin ada benarnya, jika dia memang bintang di hati, lebih baik dilihat dari jauh tidak perlu melangkah untuk mendekat. Karena bintang hanya indah bila dilihat dari jauh. Di sisi lain, pengalaman yang pernah ada mengajari bahwa perasaan yang sebenarnya tidak perlu diungkapkan kepada pemiliknya.



Okey, kayaknya dengan bergulirnya waktu, suatu penerangan dalam pikiran semakin progres. Semoga esok dan keesokannya lagi, keajaiban-keajaiban mungil akan datang.

You May Also Like

0 comments