Lily in Wonderland | Chapter 1 : Awal dari Sebuah Perjalanan

by - July 04, 2013

Chapter I
Langit gelap dan sapaan angin malam yang menusuk kulit menjadi alasan kuat bagi Lily untuk memejamkan mata dan menarik selimut hangatnya. Tak berapa lama pejaman matanya menuju dunia bunga tidur, dia terbangun mendengar suara decit pintu yang terbuka perlahan. Setengah sadar dia mencoba bangkit dari tidurnya mencari tahu apa yang terjadi. Pupilnya melebar melihat kelinci putih berdasi pita merah muda berdiri dibalik pintu yang juga sedang menatapnya.


Lily.
"Ssst...ikut aku cepat!" seru kelinci itu sambil menjatuhkan salah satu telinga panjangnya dan memiringkan kepalanya memberi isyarat.
Lily yang masih terguncang perlahan turun dari kasur dan mengikuti kelinci berponi aneh itu. Lily membuang muka usai menarik knock pintu kamarnya, tamparan angin dari luar membuatnya sedikit mundur beberapa langkah. Matanya terbuka dan tatapannya menyapu hamparan salju dimana-mana, di antara pohon-pohon berkanopi tinggi, dan kakinya tenggelam beberapa senti di endapan salju ketika dia melangkah keluar. Saat Lily memutar badan untuk kembali, dia tidak melihat knock pintunya lagi melainkan pohon besar yang diselimuti salju.

Dingin sekali disini, batin Lily sambil memeluk erat kedua lengannya. Dia mempercepat langkahnya untuk menghampiri kelinci tadi yang masih terus melompat.
"Hey, kelinci. Kita mau kemana? Disini dingin sekali, aku mau pulang." katanya.



Mendengar itu, si kelinci berhenti. "Hey, Lily. Perjalananmu masih panjang, kau tidak bisa pulang hanya dengan tangan kosong." tuturnya.
"Maksudnya apa? Dimana ini? Narnia?" tanya Lily masih bingung.
"Bukan, oneng. Ini Wonderland. Tempat dimana kamu menemukan jawaban dari semua keinginanmu di dunia nyata. Untuk bisa keluar dari sini, kamu harus melewati beberapa pos yang dijaga oleh guardian yang akan memberimu sesuatu yang belum pernah kamu dapatkan." jelas panjang kelinci itu.
"Apa itu guardian?"
"Nanti kamu akan tau sendiri,"
"Tunggu dulu, namu kamu siapa? Kenapa kamu bisa bicara? Apa semua makhluk disini bisa bicara?"
"Hu um, thats right. Semua yang ada disini bisa bicara. Namaku Nova The Rabbit, panggil aja Nobit." jawab kelinci sambil menggoyangkan ekornya.
"Nobit, aku harus kemana biar bisa cepet pulang?"
"Kesana," Nobit menunjuk arah hutan yang sangat lebat.
"Aku gak mau! Aku mau cari jalan pintas lain, pokoknya gak mau lewat sana. ENGGAK MAU!!" tuntut Lily.
"Gak ada jalan lain. Jadi jangan pikir banyak jalan ke Roma, karena disini gak ada menara pisa. Jalan menuju pintu exit cuma satu, kalo ada jalan pintas lain maka jalan itu buntu. Inget itu, okey?" jawab Nobit tegas.
"Jangan bilang aku kesana sendirian?"
"Yups. Aku cuma nemenin kamu sampai sini. Untuk perjalanan selanjutnya, kamu harus jalan sendiri. Dan ingat kata-kataku, jangan pernah melenceng dari naluri bersihmu. Karena ketika nalurimu suci, jalan setapak yang ada didepan matamu terlihat bercahaya dan hangat. Lily, jalan terang akan menuntunmu." tutur Nobit. "Oh ya, satu lagi! Ini hadiah dariku, jaga baik-baik." tambahnya lagi sambil menyodorkan lentera dari kunang-kunang pada Lily. Lily hanya diam mematung melihat Nobit melompat jauh darinya dan menghilang di balik gundukan salju yang tinggi.

***
Lily memandang lama hutan gelap itu. Dia tidak yakin bisa melewatinya hanya dengan lentera yang ditinggalkan Nobit untuknya. Suara burung hantu yang dikenalnya sampai suara-suara menyeramkan yang belum pernah dia dengar membuat bulu kuduknya merinding. Ada apa di dalam hutan ini? Apa benar ada jalan untuk pulang kembali ke kamarnya yang berantakan? Tobecontinued...

You May Also Like

0 comments