Look What You've Done

by - May 07, 2013


Aku bingung dan heran, kenapa mereka mudah mengucapkan daripada melakukan. Entah harus ketawa atau kecewa, lucu sekali kenyataan dari ucapan darinya yang tersurat tapi tidak pernah tersirat sekalipun. Padahal, dia satu-satunya mutiara imajinasi yang bersinar saat dunia ini terasa gelap.

Dia adalah mimpi yang menerbangkan angan-angan melambung tinggi, dia juga yang menjatuhkan berjuta harapan menjadi hancur berkeping-keping. Kebisuan darinya membuatku berhenti berharap dan enggan melangkan lebih jauh lagi.

Aku sangsi harus menyalahkan siapa, perasaan atau keegoisan logika? Logika jernih memutuskan untuk pergi, tapi hati memeluk erat enggan.

Selama ini aku selalu mengkhawatirkannya, tapi sekarang aku khawatir senyum harianku menghilang jika menjauh darinya. Aku takut kehilangan dia, tapi aku lebih takut kehilangan akal sehatku.

Jika aku lebih tahu awal dan akhir cerita, demi apapun di dunia ini aku tidak akan memilihmu tapi kurasa ruang mungil yang berisikan sejuta rinduku tetap memutuskan untuk memilihmu.

Dan rinduku, salah satu ketidakmampuan semua panca indraku untuk mengungkapkan rasa kecuali pada penghuni malam. Sialnya, kau memiliki semua yang kurasa saat ini.


You May Also Like

0 comments