Start here's...

by - September 23, 2012

Hari-hari yang menyibukkan mulai menghadang. Masa-masa melelahkan akah berlangsung sementara tapi cukup lama. Dan mental maupun fisik bakal jadi taruhan disini.Sekarang aku udah kelas 3 SMA, waktunya serius dan gak main-main lagi. Yang tiap malem kerjanya cuma duduk di depan laptop sambil browsing gak jelas sekarang agak dikurangi, malah nggak pernah dan amat sangat jarang sekali. Herannya, udah kelas 3 tapi tugas sekolah bukannya berkurang malah nambah. Pagi berangkat sekolah jam 6 pagi, soalnya bel sekolah jam 6.10 dan gerbang di tutup 5 menit kemudian. Padahal jarak rumah ke sekolah nggak ada dua kilo. Sejak ada peraturan telat 3 kali bakal dapet surat panggilan orang tua, sekarang tiap pagi jam setengah lima udah bangun dan nggak tidur lagi. Beda sama sebelumnya, jam 5 bangun terus solat dan tidur lagi. Bangun jam 5.45 -->> dimulai dengan mandi sampek berangkat ke sekolah. Langganan terlambat udah jadi labellingku.


Tapi sekarang udah nggak, nggak agak terlambat maksudku. Sebenernya, tinggal satu kali lagi aku terlambat, mama bakal dipanggil ke sekolah cuma gara-gara aku telat. Demi menghindari aungan macan dari mama, lebih baik antisipasi dan jauh-jauh dari kata telat.

Tadi udah ngomongin sekolah, sekarang ngomongin aku aja ya?
Kalo tentang status, statusku sekarang apa ya? Emn...ada deh. Sebenernya ada 3 pertanyaan yang sangat tabu ditanyakan ke cewek. Yang pertama ada status, yang kedua adalah agama, dan yang terakhir adalah fisik (berat badan, tinggi dan...biasanya nih, 36 keatas). Masalah asmaraku selama tujuh belas tahun ini, dari aku sendiri menilai semuanya gagal. Penyebabnya ternyata dari aku sendiri. Aku belum dewasa, dan itu terbukti. Kecewa sih, kecewa dari luar dan dalem. Kecewa dari segi apa aja. Gara-gara kekedewasaan-yang-baru-aku-sadari, aku kehilangan semua yang seharusnya bikin aku bahagia sekarang.
Aku menyia-nyiakan orang pertama yang jadi pangeran di kerajaan hatiku. Dan karmanya adalah aku disia-siakan seseorang yang menurutku udah jadiin aku putri di kerajaan hatinya. Bukan cuma itu, aku juga menjauh dan jauh dari teman-teman yang `dulunya` aku sebut sahabat. Lebih, lebih dari sekedar sahabat.
Gimana ya, sebel sendiri sama diri sendiri. Gak bisa bayangin bakal jalanin hidup dengan keadaan belum dewasa secara sempurna. Apalagi habis ini bakal pisah dari mama. Bakal pisah sama nova. Bakal pisah sama farel. Pisah dengan keluarga yang aku kagumi dan aku sayangi seumur hidupku. Dan seharusnya aku ngasih kebanggaan untuk mama sebelum aku menjauh dari mama buat menuntut masa depan di tempat yang jauh dari rumah. Tapi yang ada tetep aja, aku masih ngecewain mama. Sejauh aku berusaha, apapun caranya, masih gagal dan jauh dari kesempurnaan di mata mama.

Mulai sekarang, aku gak janji bisa dewasa. Karena dewasa itu butuh proses dan titik tolak ukurnya nggak bisa dinalarkan seperti apa. Dan proses itu suatu yang terjadi secara lama dan membawa perubahan. Semoga aja, kalo aku udah jauh dari mama, dengan iman dan sugesti dari diri sendiri bisa menjaga diri dari godaan apapun. Godaan materi maupun apapun itu yang jelas nggak tau wujudnya kayak apa. Dan sekarang aku menjelma jadi ikan yang berenang melawan arus sungai yang bergelombang, karena aku gak mau ikutan hanyut seperti ikan-ikan lainnya yang pasrah mengikuti alur sungai dimanapun sungai itu akan bermuara.

You May Also Like

0 comments