Pemulung yang Beruntung

by - March 28, 2012

Ini cerita pribadi saat duduk di bangku 4 esde. Seangkatan lah sama Nobita. Bedanya, Nobita beserta anteknya gak pernak naik kelas. Dari dulu sampe sekarang, Nobita dkk masih ingusan. Kalo aku nih, jaman 4 esde itu kerjaannya main aja. Main tanah lempung, main boneka, main apa aja pokoknya gak mainin hati orang. Dan aktivitas tiap hari pulang sekolah selalu mampir ke markas favorit, kita sebut pohon kismis di belakang polsek Genteng. Mau tau ceritanya? Skrol ke bawah.


Dulu,  kalo pulang sekolah nggak langsung ngacir ke rumah. Pasti deh serong ke tempat markas. Sebuah markas rahasia. Jangan kaget, markas itu berupa pohon kismis. Main ke markas gak sendiri dan selalu ditemenin merya, teman sederita yang udah klop sejak teka.

Pada suatu hari Jumat yang cerah dan indah, pulanglah seorang Lidya dengan sepeda bmx-nya sendirian. Kebetuln hari itu Mery sakit, jadi cuma aku sendiri yang mampir ke markas. Aku masih inget. Oh ya, pohon kismisnya itu tingginya bisa sampek 4 meteran lah, daunnya lebat. Sampai jarak jauh maupun dekat orang gak bakal tau kalo ada monyet yang lagi nongkrong di pohon itu.
Sambil masukin kismis ke kantong dan mulut, tiba-tiba aja dari arah belakang ada pemulung bawa karung kosong yang dipanggul di pundak. Bawa arit pula. Andai ada backsound, pasti deh instrumennya jadi tegang. DENG DONG DENG DONG DEEEENG DOOOOONG! *eh, monkey! udah baca aja, nggak usah joget-joget gitu*

Jantung semakin cepat memompa darah, bikin tubuh gemeteran. Yang ada dikepalaku, pemulung itu bawa arit untuk mencari anak nakal yang akan dibeleh dengan arit dan mayatnya ditaruh di karung. Pemulung itu ngeliat aku dan menggoyang-goyangkan pohon sampek aku jatuh dari pohon. BLUUGG!! Aku terjatuh. Pemulung itu mengacungkan aritnya sambil melangkah mendekat. Aku ngesot ke belakang. Pemulung itu udah ada di depanku! Dia mengayunkan aritnya, matanya melotot ke arahku. Dan... "TIDAAAAAAAAAK!!!"
Jdug! Kepalaku kejedot ranting pohon. Aku lihat sekeliling, dan ternyata aku masih diudara. Maksudnya masih diatas pohon. Baru sadar daritadi ketiduran dengan tangan kanan masih bawa sekantong kresek buah kismis. Aku liat ke bawah, udah nggak ada pemulung lagi. Pemulung itu udah pergi kayaknya. Merasa aman, aku mutusin buat turun dengan perlahan. Habis kaki nyampek tanah...
"Sep-sepatuku mana?"...."Tasku juga kemanah?"...
Aku nyari sepatu hitam dengan kaos kaki hitam yang seingetku masih aku sumpelen di sepatu dan tas pink gambar barbie di sekitar radiasi 50 meter White House tapi nggak ketemu juga sosok dan bau kaos kakiku. Aku shock. Tubuhku melemas. Aku terjatuh sambil memeluk White House.
"I-ini nggak mungkin terjadi, ini nggak mungkin terjadi. Ini nggak...nggak...MUNGKIIIIIIIIIIIIIIN!!!"
Setelah beberapa belasan menit kemudian seragamku basah. Ingusku masih aku simpen di kedua lubang hidungku. Aku baru sadar. Pemulung si pembawa arit tadi bukan mencari anak nakal, tapi mencari sepatu dan tas anak nakal. Dan juga, pemulung itu beruntung bisa ngedapetin tas yang baru 3 hari beli dipasar dan kaos kaki yang udah dua minggu belum di cuci. Pulang ke rumah, bisa ditebak. Kenak damprat habis-habisan sama bude, dan dampaknya di sekolah aku harus rela jadi komedian karena pakek sepatu kegedean punya bude (warna ijo rompi polisi pula!) dan tas oranye (kayak tante2 deh -__-). Cukup sekian cerita penderitaanku. Aku sumpahin buat pemulung itu, cepet kaya dan dapet rejeki banyak biar gak nguntit sepatu dan tas anak esde lagi.

Hayo ini alayku, mana punyamu?
Ambil hikmah ceritaku diatas. Itu kenyataan. Tapi masalahnya hikmahnya apa? Bentar *mikir keras*. Hikmahnya, kalo tidur siang jangan di atas pohon kismis. Asli, badan pegel semua. Tangan juga bahaya kena ulat bulu. Pengalaman.

You May Also Like

0 comments